<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120</id><updated>2012-01-03T01:42:52.661-08:00</updated><title type='text'>"KutulisGerimis"</title><subtitle type='html'>menulis sajak sebagai ungkapan kegembiraan dalam mensyukuri dan merayakan kehidupan. mencatat hal-hal kecil ataupun besar yang tercecer dan terserak di sepanjang perjalanan.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>31</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-2695657267658998532</id><published>2010-07-01T21:24:00.000-07:00</published><updated>2010-07-02T00:20:45.273-07:00</updated><title type='text'>Silaturahmi Sastra di Reboan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/TC2S5D-4h2I/AAAAAAAAACQ/dwLQVUjGzNU/s1600/0153087p.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 298px; height: 225px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/TC2S5D-4h2I/AAAAAAAAACQ/dwLQVUjGzNU/s400/0153087p.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5489205029853759330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silahturami Sastra di Reboan&lt;br /&gt;Jumat, 2 Juli 2010 | 02:48 WIB&lt;br /&gt;dok.sastra reboan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai suatu komunitas, Sastra Reboan menarik untuk dipelajari dan dibawa ke daerah untuk bisa dikembangkan. Tidak hanya sebagai ajang silahturahmi yang membuka sekian pintu sastra yang ditutup oleh orang-orang tertentu, tapi juga untuk membuka cakrawala baik dari yang ada di daerah ke Indonesia, ataupun yang ada di Indonesia ke luar Indonesia dan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi tidak menutup kemungkinan Sastra Reboan akan menghadirkan sastrawan asing, atau sebaliknya”, kata penyair terkenal dari Gresik, Jawa Timur, Mardi Luhung setelah membacakan puisinya di Sastra Reboan #27, kemarin (30/06). Hal itu dikatakan Mardi Luhung di panggung menjawab pertanyaan Budhi Setyawan yang menjadi MC dan kepada Ketua Sastra Reboan, Johannes Sugianto dalam perjalanan pulang selesai acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika diberitahu bahwa April 2009 lalu sebanyak 20 sastrawan dari Malaysia datang ke Indonesia dipimpin dr.Irwan Abu Bakar, setelah sebelumnya Dato’ Ahmad Kemala juga hadir di Reboan, Mardi Luhung yang baru meluncurkan bukunya terbaru “Ciuman Bibirku yang Kelabu” mengatakan “Itu yang menarik dan kita harapkan. Jadi selalu ada pintu lain yang dibuat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair yang karyanya sudah banyak dimuat di berbagai media ini menyarankan jika perlu di akhir tahun ada buku yang diterbitkan oleh Sastra Reboan, yang terkait dengan acara selama setahun, semacam jurnal. Isinya bisa tentang puisi, prosa, foto, kliping berita dan wawancara yang diseleksi dengan standar yang ada. Pasti asyik, tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra Reboan ke 27 yang mengusung tema “Juni yang Penuh Rencana” tidak hanya menampilkan penyair ternama seperti Mardi Luhung tapi juga Sapardi Djoko Damono yang menulis puisi legendaris “Hujan Bulan Juni”, artis Cornelia Agatha dan penyair lainnya, selain penggemar sastra yang mendapat kesempatan tampil membaca karyanya. Selain itu juga berlangsung diskusi buku “Kabut Pantai Anyer” karya Anny Djati Waluyo dengan pembahas Aurelia Tiara dan Ilenk Rembulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dalam Sastra Reboan kali ini juga banyak yang pertama. Seperti Ruth Meinila yang pertama kalinya tampil di sebuah panggung sastra. Sedang Cornelia Agatha, Johnnie Kirman, Iman, Mardi Luhung, Ira Ginda, Josephine Maria dan Diana yang baru pertama kali tampil di panggung Reboan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara diawali dengan penampilan Chicken Crispy Band yang mengusung musik rock, sebelum Ruth Meynala membaca karyanya “Permata Hatiku” yang dipersembahkan untuk ketiga puterinya. Disusul Iman, seorang guru bahasa Inggris dengan puisi “Ideal” dan “Lone Saturday” dan Johnnie Kirman (arsitek yang tinggal di Tangerang) membaca “ Hijaunya Membara”. Berikutnya tampil Kartika DIana Hade Putri, mahasiswa STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) yang menampilkan monolog dari puisi “Sebelum Fajar” karya Sapardi Djoko Damono. Penampilan pembuka, pembacaan puisi dan monolog ini segera menghangatkan suasana di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan, Jakarta Selatan malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pukul 19.00 pengunjung mulai mengalir. Sapardi Djoko Damono datang lebih awal. “Biar tidak kena macet,”katanya sambil memesan nasi goreng dan jahe panas, setelah bertanya apakah ada bajigur atau tidak. Penulis lainnya yang berdatangan antara lain Kurnia Effendi, Kurniawan Djunaedi, cerpenis Rama Dira J (terpilih dalam 10 cerpenis terbaik Kompas, termasuk juga Mardi Luhung), Jodhi Yudhono, Endo Senggono, Ags Arya Dipayana, Irmansyah dan para penulis muda yang belakangan makin bermunculan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis Saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bincang-bincang sastra kali ini diisi dengan pembahasan novel kedua Anny Djati “Kabut Pantai Anyer” (KPA) . Wanita pengusaha daging impor ini menulis novel bertema pembunuhan. Ditengah kesibukan bisnisnya dan fungsinya sebagai isteri Djati Wlauyo, konsultan jalan tol, dan ibu dua anak ini, dia masih sempat menulis. Ini berkat kesukaannya membaca buku sejak kecil, mendirikan taman bacaan bersama teman-temannya dan menjadi wartawati suatu majalah. Karya pertama Anny (57) berjudul “Dilema Perempuan” diterbitkan tahun 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anny Djati sendiri mengakui belum pernah membuat tema pembunuhan seperti dalam novel keduanya ini, meski ia suka cerita dan film kriminal seperti karya Agatha Christie. Atas dorongan teman-temannya, dibantu seorang intel, ia mencoba menulis cerita yang akhirnya menjelma dalam KPA yang bertutur tentang perempuan usia 27 tahun dari keluarga bahagia tapi ternyata semu dan penuh pergulatan akan dendam hingga terjadi pembunuhan terhadap adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Aurelia Tiara Widjanarko yang menjadi pembahas novel ini bersama Ilenk Rembulan, selain kaya data dalam KPA juga terasa penokohannya yang moderen sekali. Sedang Ilen, yang merasa salut atas keberanian Anny mengambil tema pembunuhan, melihat warna yang lebih maskulin dibanding buku pertamanya. Menurut Anny, hal ini merupakan suatu pilihan, dan dalam tema pembunuhan ini maka dibuat lebih “laki-laki” dibanding buku pertamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Ita Siregar, cerpenis yang mendapat kesempatan bertanya, berpendapat bahwa penulis tidak membebaskan tokoh-tokohnya melakukan tindakannya, tetapi seolah didalangi oleh penulis sendiri dalam alur cerita yang bagus.Hal ini ditanggapi oleh Anny, bahwa penulis memang menentukan nasib para tokoh, dan ini dipengaruhi oleh unsur ‘si aku”. Adanya penjelasan yang terkesan sangat rinci dalam KPA, bisa jadi karena banyak berkonsultasi dengan pihak kepolisian untuk melengkapi data yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimanapun, penulisan dua novel ini merupakan pembelajaran yang sangat berharga”, kata Anny Djati yang sedang mempersiapkan buku ketiganya. Di ahir bincang-bincang ini, Aurelia Tiara yang juga penyair dan host di TVRI membacakan cuplikan novel KPA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam terus bergulir. Mardi Luhung yang datang bersama isterinya langsung menghentak dengan pembacaan puisinya “Dari Jalanan”, diikuti “Orang yang Ber Tuhan Jelek”, bertutur tentang Sumanto, pelaku kejahatan yang memakan daging korbannya. Pengunjung yang makin memenuhi Wapres meminta tambahan puisi kepada Hendry, panggilan akrab Mardi Luhung. Lelaki kelahiran Gresik, 5 Maret 1965 ini memenuhi permintaan itu dengan membaca “Gresik 18” tentang nasih Gresik di masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembacaan puisi terus belanjut. Kali ini dua penyair yang baru meluncurkan karyanya bersama penyair lainnya dalam “Tarian Ilalang” tampil berurutan yaitu Ira Ginda membawakan “Pejalan”, “Mantra Waktu” dan “Wajah Bapak Ibuku” serta Jospehine Maria yang berduet dengan Jack dalam “Dua Rupa yang Terlupa” dan sebuah karya Ade Rizal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggiat sastra dan penyair Ira Ginda alias Ira Pelitawati membaca karya temannya “Pejalan” dan “Mantera Waktu”, Wajah Bapak Ibuku” . Pembacaan berikutnya oleh duet Josephine Maria dan Jack alias Jakaria bin H Masan  membacakan puisi ciptaan Josephine "Dua Rupa yang Terlupa" dan sebuah karya Ade Rizal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu penampilan yang ditunggu-tunggu, selain Mardi Luhung dan Cornelia Agatha, adalah Sapardi Djoko Damono yang juga guru besar Universitas Indonesia, dalam perbincangan yang dipandu Kurnia Effendi. Dengan penampilan sederhana, bercelana jeans biru,baju putih dan jaket coklat sastrawan besar ini menjawab pertanyaan Kef, panggilan Kurnia Effendi dengan santainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang ‘Hujan Bulan Juni”, Sapardi dengan tenangnya mengatakan, hujan di Juni ini bukan lagi misteri karena hujan sudah datang di bulan Juni. Seniman bukan orang yang membaca masa depan, kalau begitu kan saya bisa jadi ketua Badang Meteorologi dan Geofisika. Ucapan lelaki sederhana ini disambut tertawa dan tepuk tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal “waktu”, ia juga mengatakan bahwa waktu itu kita yang menciptakan, dan itu akan terus berubah. Kita yang membuat hari, membuat jam. Waktu itu tidak ada. Waktu itu dibuat oleh orang, dan kita tidak dapat membuat waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesannya untuk penulis, menjawab pertanyaan Kef, pujangga kelahiran Surakarta, 20 Maret 1940 ini mengingatkan masih sedikitnya toko buku saat ini dibanding karya yang ada. Komunitas adalah forum yang bagus untuk memasarkan atau memamerkan karya-karya kita, sesuatu yang tak diminati oleh toko-toko buku. Penulis juga menemukan pembacanya lebih terbuka lewat komunitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjawab pertanyaan salah satu pengunjung tentang puisi yang dimusikkan, Sapardi mengatakan bahwa puisi diadaptasi ke teater dan musik itu hanya alih wahana saja. Puisi itu sebenarnya adalah bunyi oleh karena itu puisi bisa  dibuat menjadi musik atau lagu. Elemen yang bagus ada rima seperti puisi Amir Hamzah. Tetapi musik tak bisa diubah menjadi puisi karena tak mempnuyai kata-kata. Puisi adalah harmoni antar abunyi dan bentuk. Memindahkan bunyi kedalam kata-kata menjadi karakter yang bermakna-makna. Puisi itu menuntut bunyi karena harus dibaca. Parameter puisi bagus adalah dari diri si penulis sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika ditanya tentang menulis, saya hanya menulis. Perkara jadi puisi ya biarlah jadi puisi, begiut juga jika nanti jadinya prosa. Menulis saja”, katanya mengakhiri bincang-bincang yang sayangnya masih juga terganggu oleh obrolan sebagian pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara terus berjalan, kali ini menampilkan Restoe Ibrahim Prawiranegara yang membaca karyanya berjudul ”Nestapa” dan ”Potret Buram” diiringi petikan gitar dan harmonika Rian Gabo. Dilanjutkan dengan Dian M Balqis yang membawakan "Hingga Nafas Terhenti." yang merupakan salah satu lagu dari album yang sedang digarapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir acara, sebelum Susy Ayu yang baru melemparkan buku puisinya “Rahim Kata-Kata” membaca “Laki-laki yang Mencariku” dan “Perempuan-Perempuan”, artis cantik yang populer lewat sinetron “Si Doel Anak Sekolahan”, Cornelia Agatha membaca sebuah puisi karya Moamar Emka, “Jiwa-jiwa yang Patah”. Puisi ini dibawakan dengan penuh penghayatan dan menawan. “Puisi ini saya persembahkan untuk kekasih saya, orang yang membuat saya jatuh cinta dengan puisi. Puisi ini untuk Sapardi Djoko Damono”, ucap Lia, panggilan Cornelia, yang disambut tepuk tangan meriah dan senyum oleh Sapardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lia kemudian bermusikalisasi puisi dengan Yuyun, penyanyi yang bersuara seksi dan indah, dalam “Akulah Puisi” karya Lulu Ratna dengan latar musik disco. Penonton seperti tak beranjak dari tempat duduknya, apalagI ketika Lia melanjutkan penampilannya dalam “Rose” karya Ridha K.Liamsi yang dibawakan dalam hentakan musik campuran gamelan Bali dan rock.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klimaks malam ini diisi oleh Cornelia Agatha dengan membaca sendiri "Jiwa-Jiwa yang Patah" karya Moamar Emka dilatari alunan musik gitar. Puyisi itu khusus ia bacakan untuk SDD. Diteruskan dengan duet musikalisasinya bersama Yuyun "Akulah Puisi" karya Lulu ...  dengan latar musik disco dan backsound Yuyun. Duet bunyi-bunyi puisi yang cantik dan seksi ini sangat memesona penonton. Hentakan musik campuran gamelan Bali dan musik rock, disco mengiringi "Rose" karya Ridha K Liamsi oleh pembacaan Lia, panggilan akrab Cornelia, dan backsound Yuyun. Penampilan luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra Reboan ke 27 ini ditutup oleh MC Budhi "Buset' Setyawan dengan membacakan puisi karyanya sendiri "Perempuan yang Tertawa pada Hujan" yang ditujukan untuk Mardi Luhung dan Cornelia Agatha. (ochi/gie)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-2695657267658998532?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/2695657267658998532/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=2695657267658998532&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/2695657267658998532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/2695657267658998532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2010/07/silahturami-sastra-di-reboan-jumat-2.html' title='Silaturahmi Sastra di Reboan'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/TC2S5D-4h2I/AAAAAAAAACQ/dwLQVUjGzNU/s72-c/0153087p.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-2621974797008632367</id><published>2009-03-19T19:32:00.000-07:00</published><updated>2009-03-19T19:34:20.696-07:00</updated><title type='text'>konsisten dengan dua jalur saja!</title><content type='html'>setelah sejenak bisa sedikit bernafas lega dari rutinitas kepadatan kerja, saya mulai ingin menulis apa saja, sebenarnya ingin nulis puisi tapi rasanya kok ga ada inspirasi..hehe, ini bentuk pembelaan diri. di kepala saya melingkar-lingkar aneka peristiwa. peristiwa biasa saja, peristiwa yang ringan, yang ga penting. dalam beberapa kali postingan di republik facebook, saya telah memulai menulis sesuatu yang ringan, yang biasa, lintasan peristiwa yang saya dengar dan saya lihat, saat saya berangkat dan pulang kerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hampir beberapa minggu ini saya meninggalkan motor dan memilih naik angkutan umum ke kantor. disamping pingin sedikit nyantai, juga ada kemalasan bermacet-macet di musim kampanye seperti sekarang. pilihan utama adalah naik kereta, lama tak naik kereta eh rasanya nikmat juga, bisa terkantuk-kantuk sepanjang perjalanan. kenikmatan yang telah lumayan lama saya tinggalkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;beruntung rumah saya di bekasi, tak jauh dari stasiun kereta. para pengguna kereta pasti mafhum, naik kereta hanya perlu kedisiplinan, kalau kita telat kereta tak bakal menunggu, meski kalau kita datang lebih dini sering pula kereta terlambat. “ya, lumrah namanya juga di Indonesia” kata calon penumpang disamping saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tidak seperti partai yang terus tumbuh berkembang biak. soal jalur rel kereta, dari sejak jaman belanda hingga 64 th merdeka ya tetap dua jalur. soal membangun rel kereta negeri ini memang konsisten. untuk mempertahankan tetap dua jalur saja..he..he…. &lt;br /&gt;sebenarnya sudah ada rencana membuat rel ganda tambahan untuk angkutan dari stasiun kota hingga cikampek. pembebasan lahan sudah dimulai jauh sebelum pak esbeye jadi presiden hingga pak esbeye hampir habis masa jabatannya. adanya rel ganda pasti akan banyak memberi manfaat, mengingat angkutan kereta khusus untuk aktifitas pelajar dan pekerja selama ini masih nebeng jalur antar kota, alias kereta-kereta ke jawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat berangkat kerja, di dalam gerbong, sambil terkantuk-kantuk mata saya melihat pagar-pagar beton yang tampak memanjang dari lahan yang sudah di bebasakan di pinggir rel kereta. andai saja rel ganda tambahan itu sudah dicicil dibangun sejak lima tahun lalu pastilah sekarang sudah terbentang memanjang. cikampek toh hanya seratusan kilo.&lt;br /&gt;adanya rel ganda tambahan akan membuat semakin banyak kereta angkutan menuju kota bisa dijalankan. artinya orang-orang pengguna kereta kebanyakan seperti saya bakal tak kerepotan lagi ketinggalan kereta. tak sampai lima menit telah tersedia kereta. kemacetan jalan bisa dikurangi, pertumbuhan ekonomi bisa semakin merata. karena masyarakat kecil bisa berniaga di setiap stasiun kereta, juga jasa penitipan kendaraan. pengangguran pun berkurang. anak-anak sekolah tak perlu bergelantungan di atas gerbong kereta. dan dikejar polisi pamong praja dengan pentungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau kita bisa membangun jalan tol hingga hampir ke seluruh pelosok pulau jawa, sungguh bertolak belakang dengan jalur rel kereta, tetap konsisten menggunakan warisan belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sepertinya susah ya membangun rel kereta?, sepertinya belum ada caleg yang menjadikan ini janji kampanye ya? lumayan lho buat modal jualan..hehe&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-2621974797008632367?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/2621974797008632367/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=2621974797008632367&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/2621974797008632367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/2621974797008632367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2009/03/konsisten-dengan-dua-jalur-saja.html' title='konsisten dengan dua jalur saja!'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-1727934478594011211</id><published>2009-03-19T19:30:00.000-07:00</published><updated>2009-03-19T19:32:23.664-07:00</updated><title type='text'>ada bacaannya!</title><content type='html'>setiap yang suka membaca, entah koran, majalah, tabloid, buku, atau berita lain lewat internet pastilah mereka menggemari bacaan yang berbeda. karena selera baca seperti juga lidah setiap orang sudah jamak kalau berlainan. selera baca juga sangat tergantung dengan kebutuhan. tergantung dengan profesi, status social, tingkat pendidikan, latar belakang social, kultur lingkungan dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kebutuhan itu bisa sesuatu yang diinginkan atau tidak diinginkan. seorang pelajar atau mahasiswa membaca buku yang belum tentu disukainya tetapi lebih karena kebutuhan untuk bisa menjawab soal. berbahagialah seseorang yang bisa membaca sesuatu yang dibutuhkan sekaligus disukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam memulai setiap hal, terkadang kita butuh juga bacaan. dalam mengakhiri setiap kegiatan kitapun membaca bacaan. bangun tidur, mandi, sarapan, berangkat kerja, ke pasar, juga saat kembali mau beranjak tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di rumah saya setiap pagi kedatangan mpok minah. seorang perempuan kampung yang lugu dan jujur. seorang yang pasti tak suka membaca karena mpok minah buta huruf. mpok minah adalah tukang cuci keliling dari kampung belakang komplek perumahan tempat kami tinggal. mpok minah seorang janda yang ditinggal pergi suaminya kawin lagi. ia mesti menghidupi tiga anaknya yang masih kecil, untuk itu ia menjadi buruh cuci di beberapa rumah. dulu ia masih bisa mendapat uang tambahan dari menjadi buruh tani. tapi tahun ini penghasilan tambahan dari sawah berakhir sudah. developer pemilik lahan tak lagi mengijinkan areal sawahnya di tanami, karena disana segera akan dibangun perumahan real estate. sayapun tak lagi bisa melihat orang-orang menanam padi, hamparan hijau, kuning dan kesibukan panen. apa boleh buat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada sebuah peristiwa yang mengundang senyum berkaitan dengan bacaan. tetangga saya seorang wanita keturunan pernah tak habis heran. di bulan puasa mpok minah tetap semangat mengerjakan cucian dari satu rumah ke rumah lainnya. dari satu bakul cucian ke bakul cucian. dari pagi dini hari hingga terik siang. tanpa kenal lelah.&lt;br /&gt;tetangga cina saya itu bertanya : “mpok puasa?” “lha iya” kata mpok dengan logat betawi kentalnya. “kok kuat sih, kerjaan segitu banyaknya? sambungya penuh heran. “oh. ntu, pan ada bacaannya nyah!” jawab mpok minah yakin di depan wajah tetangga cina saya yang makin ter heran-heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya yakin, tetangga cina saya itu pasti sangat ingin tahu bacaan mpok minah.&lt;br /&gt;sayapun yakin, sampeyan pasti tahukan apa yang di baca mpok minah?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-1727934478594011211?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/1727934478594011211/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=1727934478594011211&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/1727934478594011211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/1727934478594011211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2009/03/ada-bacaannya.html' title='ada bacaannya!'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-2437180885251622676</id><published>2009-03-19T19:28:00.000-07:00</published><updated>2009-03-19T19:30:28.636-07:00</updated><title type='text'>pemilu lagi, kampanye lagi, siap-siap jalanan macet total...</title><content type='html'>beberapa bulan ini telah kita lihat sepanjang hari, saat berangkat kerja, ke pasar, antar anak sekolah, jalan-jalan pagi, pergi nonton, bayar tagihan listrik, telepon, juga saat pingin makan bubur ayam atau sate kambing kesukaan, aneka gambar bendera partai dan baliho rame-rame mejeng di pinggir jalan. pohon-pohon nyaris tak ada yang sepi dari atribut. pohon kecil, pohon besar semua mendadak berbuah aneka bendera dan poster. paku-paku menancapi batang tubuhnya, tiang-tiang bambu yang diikat bendera mendadak menyembul dari rindang daunnya. tiang-tiang listrik dan telepon pun jadi sasaran paling empuk untuk sarana mengibarkan bendera dan poster dengan berbagai ukuran, dengan berbagai macam tulisan berisi bujukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jelas, bendera-bendera partai tengah berebut perhatian. berlomba-lomba menempati area ketinggian. kearah mana kita melihat, mata kitapun dicegat bendera. ke kiri bendera, ke kanan bendera, ke belakang bendera, ke depan bendera, ke ataspun bendera, ke bawah juga bendera (tentu saja kalau kita sedang berada di ketinggian, di puncak gunung atau di atas gedung). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rupanya, mata kita yang telah dipaksa melihat aneka gambar partai dan wajah ganteng juga sangar para caleg itu belum sepenuhnya bisa istirahat. karena tak hanya di pinggir jalan keaneka ragaman gambar itu akan menyandera mata, kini saat saat berangkat kerja, ke pasar, antar anak sekolah, jalan-jalan pagi, pergi nonton, bayar tagihan listrik, telepon, juga saat pingin makan bubur ayam atau sate kambing kesukaan, mata kita pun mesti siap-siap melihat aneka gamber itu melekat di kios-kios, topi, topeng, rambut, celana, jacket, ikat kepala, yang tumpah ruah di atas motor, mobil dan truk menyesaki jalanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“tak apalah, inikan pesta demokrasi, pemilu semoga bisa membawa kebaikan bagi negeri ini” celetuk seorang teman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jadi, mari kita berbesar hati, perbanyak sabar saat terkena macet di jalan..hehe&lt;br /&gt;siapa tahu makin memantabkan pilihan tanggal 9 april nanti, berniat ikut mencontreng kan sampeyan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-2437180885251622676?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/2437180885251622676/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=2437180885251622676&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/2437180885251622676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/2437180885251622676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2009/03/pemilu-lagi-kampanye-lagi-siap-siap.html' title='pemilu lagi, kampanye lagi, siap-siap jalanan macet total...'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-5802967417294189805</id><published>2009-03-19T19:26:00.000-07:00</published><updated>2009-09-04T00:00:14.932-07:00</updated><title type='text'>dua bulan ke depan, bakal banyak keluyuran orang gila di jalanan</title><content type='html'>pemilu, bukan sarana pembuat pilu bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ga terasa tahu-tahu udah masuk musim kampanye terbuka. artinya partai-partai politik yang jumlahnya lusinan itu bakal bergiliran menyajikan berbagai kue janji yang dirasa paling gurih dan enak untuk memikat masyarakat. berbagai cara akan mereka lakukan, mulai dari orasi, jogetan dipanggung, keluar masuk pasar, dan ada juga yang kampanye di tengah petani yang lagi panen padi, mirip insinyur pertanian yang lagi ngasih penyuluhan. semuanya itu dilakukan demi dapat meraih simpati. saya baca di koran malah ada caleg yang berdandan ala ketoprakan berorasi sambil membagi sticker kepada para pengguna jalan. ya beragam cara dilakukan, namanya juga untuk mendapatkan sebanyak mungkin dukungan. meskipun terkadang terasa menggelikan dan memelas… apa boleh buat. sungguh terjal jalan para caleg untuk bisa meraih kursi idamannya. kalau di pemilu 2004 tidak mengenal parliamentary treshold, di pemilu 2009 ada syarat ini, yaitu minimal 2.5 % suara. apalagi kalau ia menjadi caleg dari partai yang baru pertama kali ikut pemilu, disamping berjuang untuk meraih minimal 2,5 persen suara partainya, ia pun juga harus berjuang untuk dirinya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jaman saya masih ikutan kampanye dulu, partai cuma ada tiga peserta, sekarang wah naudubillah banyaknya, saya berani bertaruh pasti hanya sedikit orang yang hapal semua nama-nama partai peserta pemilu 2009. kalau dulu di jalanan yang terlihat hanya gambar tiga kontestan, karena kita hanya memilih partai saja dan jumlahnya juga cuma tiga. maka di era pemilihan langsung tahun 2004, kita melihat jalanan makin riuh dengan wajah capres dan calon dpd (dewan perwakilan daerah). lalu di tahun 2009 bisa dibayangkan semakin riuh dan ramainya pemandangan sepanjang jalan, baik jalan protokol, sampai jalan komplek dan gang-gang di perkampungan dengan berbagai atribut gambar dari lusinan partai dan ratusan ribu bahkan mungkin mencapai jutaan wajah caleg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kekhawatiran yang sangat mungkin beralasan. jutaan caleg harus bertarung, sementara kursi yang tersedia hanya puluhan ribu. tentu saja, bakal banyak sekali caleg yang tak terpilih akan merasa kecewa, stress akibat terlilit utang dan menanggung rasa malu, yang berakibat bisa mengancam kejiwaan. tak heran departemen kesehatan menyiagakan seluruh rumah sakit jiwa untuk bersiap-siap mengantisipasi banjirnya pasien. ternyata musim penyakit ga cuma flu burung atau DBD. dua bulan kedepan kalau sampai RSJ tak bisa menampung pasien, bakal banyak keluyuran orang gila di jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;omong-omong, sampeyan sudah punya pilihan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-5802967417294189805?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/5802967417294189805/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=5802967417294189805&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/5802967417294189805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/5802967417294189805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2009/03/dua-bulan-ke-depan-bakal-banyak.html' title='dua bulan ke depan, bakal banyak keluyuran orang gila di jalanan'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-1332367260578693134</id><published>2009-02-10T07:01:00.001-08:00</published><updated>2009-02-10T07:01:46.956-08:00</updated><title type='text'>2008</title><content type='html'>hanya angka-angka, tak ada persemayaman, tak ada upacara, tak ada tanda bekas duka, tanggal di tengah pesta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-1332367260578693134?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/1332367260578693134/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=1332367260578693134&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/1332367260578693134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/1332367260578693134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2009/02/2008.html' title='2008'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-5788046977446737692</id><published>2008-12-23T21:17:00.000-08:00</published><updated>2008-12-23T21:20:07.210-08:00</updated><title type='text'>Tak ada salahnya mimpi di siang bolong bukan?</title><content type='html'>Desember 2008 sudah di penghujung batas. Tahun akan segera berganti angkanya. Sementara di kepala saya masih dipenuhi lingkaran peristiwa. Membaca, melihat beragam drama di setiap belahan dunia membuat saya miris. Apakah yang mereka (para penguasa dunia) inginkan sebenarnya?, tengah membangun sebuah peradaban dunia baru atau tengah menciptakan ke chaos an baru?. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan pemanasan global telah turut memperparah nasib manusia. Dalam laporannya Oxtam (Organisasi bantuan internasional) kepada PBB, menyebutkan angka 971 juta orang kelaparan sampai desember 2008 ini dan akan terus bertambah. Penyebabnya kenaikan harga-harga akibat krisis global dan berkurangnya lahan pertanian terutama di Afrika dan Asia karena perubahan iklim akibat pemanasan global. Sebuah sumber mengatakan di Asia setiap 5 detik 1 orang mati kelaparan. Bahkan saya melihat berita di TV, di Makasar seorang ibu mati kelaparan demi merelakan jatah makan harian yang hanya cukup untuk ke tiga anaknya yang kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga makin mafhum saja, kalo pada sebuah berita di televisi seorang presiden penguasa dunia yang bakal pensiun dan tengah mengucapkan kata perpisahan itu, tiba-tiba melayang sepasang sepatu ke wajahnya. Untung saja sang presiden negeri adidaya itu bisa berkelit. Ke mafhuman saya tentu saja beralasan. Sang presiden itu sebelumya pernah membuat pernyataan yang sungguh mengagetkan. “Adalah kesalahan Intelijen kami, bahwa ternyata Irak tidak benar-benar memiliki senjata pemusnah masal”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, sebuah negara adidaya  yang mempunyai kecanggihan sistem membuat kesalahan kebijakan karena kekeliruan laporan intelijennya. Kekeliruan bahwa negeri yang menjadi target agresinya sebenarnya tidak mempunyai senjata pemusnah masal, seperti yang selama ini dijadikan alasan untuk menindasnya. Dan kesalahan itu harus ditebus tidak hanya dengan raibnya milliaran dollar untuk dana perang tapi juga mengakibatkan jutaan orang mati dan ratusan ribu cedera. Maka tak urung efek domino dari kesalahan kebijakan itu membuat sang adidaya nyaris bangkrut. Sehingga perlu meminta belas kasihan negara-negara teluk sekutunya untuk menyumbang dana agar ekonominya tidak tiarap. Perang selalu mengakibatkan kesengsaraan bagi yang kalah juga bagi yang merasa dirinya menang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya awal tahun 2009 ini, saya masih akan merasakan masa-masa dunia yang tetap kelam, dunia hanya sedikit terhibur dengan terpilihnya Obama sebagai presiden baru sang adikuasa. Semoga masyarakat Indonesia yang masih megap-megap dililit persoalan krisis multidimensi ini masih sedikit mendapat hiburan dengan munculnya figur baru sebagai pemimpin mereka pada pilpres 2009. &lt;br /&gt;Ah tak ada salahnya mimpi di siang bolong bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Catatan desember 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-5788046977446737692?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/5788046977446737692/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=5788046977446737692&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/5788046977446737692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/5788046977446737692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2008/12/tak-ada-salahnya-mimpi-di-siang-bolong.html' title='Tak ada salahnya mimpi di siang bolong bukan?'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-13192105047540906</id><published>2008-12-12T09:26:00.000-08:00</published><updated>2008-12-12T09:27:41.825-08:00</updated><title type='text'>sastro itu tetangga saya</title><content type='html'>sastro itu tetangga saya&lt;br /&gt;tinggal di bawah atap kemerdekaan itu cita-citanya&lt;br /&gt;setiap hari dia menghabiskan lebih sekilo arang &lt;br /&gt;untuk memenuhi tembok kuburan dengan tulisan&lt;br /&gt;"saya bukan milik siapa-siapa". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi orang-orang acuh-acuh saja. &lt;br /&gt;tentu saja sastro berang, &lt;br /&gt;karena sudah hampir seluruh usianya &lt;br /&gt;dihabiskannya untuk melayani tuan-tuan&lt;br /&gt;yang dengan senak wudelnya memaksanya &lt;br /&gt;untuk tunduk bersimpuh pada telapak kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kau bukan ibuku dan di kakimu tak ada surga" &lt;br /&gt;teriak sastro keliyengan menenggak sebotol anggur ketan item&lt;br /&gt;setiap kali usai menghabiskan sekilo arang &lt;br /&gt;untuk memenuhi tembok kuburan. &lt;br /&gt;tembok yang dia coret-coret dengan tulisan &lt;br /&gt;"saya bukan milik siapa-siapa!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sastro itu pernah jadi tetangga saya. &lt;br /&gt;kini dia telah pergi entah kemana. &lt;br /&gt;katanya dipaksa ikut tuannya ke negeri seberang. &lt;br /&gt;di sana kau akan kami gaji dengan dollar,&lt;br /&gt;bukankah kau ingin merdeka?, nah kemerdekaan butuh biaya. &lt;br /&gt;di sini kau pasti hanya akan menderita dan mati sia-sia. &lt;br /&gt;rupiah terus melemah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itulah yang aku denger dari orang-orang.&lt;br /&gt;sastro telah pergi. tulisan-tulisannya pada &lt;br /&gt;tembok kuburan telah hilang. sejak tuan-tuan&lt;br /&gt;memerintahkan untuk mengapurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya melihat di dalam kuburan, &lt;br /&gt;pada sebuah makam, sastro masih sempat memahatkan&lt;br /&gt;tulisan di batu nisan. &lt;br /&gt;“jeng lastriku sayang, aku hanya milikmu seorang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-13192105047540906?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/13192105047540906/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=13192105047540906&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/13192105047540906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/13192105047540906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2008/12/sastro-itu-tetangga-saya.html' title='sastro itu tetangga saya'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-2198213134636648796</id><published>2008-04-14T21:51:00.000-07:00</published><updated>2008-04-15T07:47:39.418-07:00</updated><title type='text'>PaSar maLaM</title><content type='html'>&lt;a id="thelink" onclick="return fitsInWindow();"&gt;&lt;img id="thepic" title="Click to visit ImageShack for Image Hosting!" style="WIDTH: 337px; HEIGHT: 287px" onclick="scaleImg()" height="282" alt="img530/9248/pasarmalamlogowebiv4.jpg" src="http://img530.imageshack.us/img530/9248/pasarmalamlogowebiv4.jpg" width="362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PaSar Malam&lt;br /&gt;"banyak pintu menuju sastra"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menilik namanya setiap orang pasti akan punya kenangan ketika membaca dua kata itu. PaSar MaLamsebuah keramaian tradisional yang sudah ada sejak sebelum kota-kota dipenuhi mal-mal. Sebuah tradisi hiburan yang redup terang masih mencoba tetep bernafas di tengah-tengah kesumpekan, di tengah galau, keluh kesah, dan ketidak pastian nasib bangsa. Ekonomi yang tertatih, budaya yang kedodoran, teknologi yang gagap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nah, lepas dari segala kepenatan itu, ada hal lain yang ingin saya sampaikan sehubungan dengan kata PaSar maLam itu. Yang saya maksud adalah PaSar MaLam yang ini rupanya adalah sebuah kegiatan seni khususnya sastra. PaSar MaLam disini kependekan dari Paguyuban Sastra Rabu Malam. Sebuah paguyuban yang lahir dari glenak-glenik antar teman sesama milis sastra. Saat itu seorang kawan Johanes Sugianto menawarkan tempat kosong di wapres untuk akhir bulan di hari Rabu. Maka setelah melalui proses pembicaraan beberapa kali, dimulai di wapres bulungan, di belakang Gelael. Terus puncaknya di warung Alex TIM malam itu : Zai Lawanglangit, Dino Umahuk, Yonathan Rahardjo, Johanes Sugianto, Dian Ilenk, Nina Yuliana, Sahlul Fuad, Gita Pratama dan Budi Setyawan sepakatlah kita membuat paguyuban itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai pertemuan saya mendapat tugas menggarap logo, nama paguyuban dan visi misi. Setelah beberapa kali menggagas nama, merancang logo dibantu kawan Deddy Triadi akhirnya ketemulah kata paSar maLam ini. Ketika disodorkan ke kawan-kawan, alhamdulillah mereka sepakat dan meng amini. Ya walhasil tinggal persoalan teknis yang harus kami siapkan untuk acara perdana PaSar MaLam yaitu tgl 30 April 2008, hari Rabu di Wapres Bulungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PaSar MaLam diharapkan menjadi oase, ajang, muara bagi setiap penggiat seni sastra untuk saling berbagi. Karena berlebel PaSar MaLam tentu saja paguyuban ini bersifat terbuka, tak ada sekat, kotak-kotak. Ibarat warung yang punya banyak pintu maka semua pintunya terbuka lebar bagi siapa saja. Anggotanya tentu saja lintas milis, lintas suku, bangsa, budaya, agama, lintas negara, lintas semesta&lt;br /&gt;Pemilihan nama PaSar maLam tentu saja agar terkesan ringan, fun, dan unik untuk sebuah paguyuban sastra, diharapkan akan menjadikan komunitas ini jauh dari kesan eksklusif. Bahkan harapan kami sesuai tujuan paguyuban ini yaitu ingin mendekatkan sastra ke masyarakat kota, menjadikan sastra sebagai gaya hidup, budaya dan spirit kehidupan.&lt;br /&gt;Semoga....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;lawanglangit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-2198213134636648796?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/2198213134636648796/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=2198213134636648796&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/2198213134636648796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/2198213134636648796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2008/04/pasar-malam.html' title='PaSar maLaM'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-8100339058919702919</id><published>2007-11-19T05:58:00.000-08:00</published><updated>2007-11-19T06:06:13.248-08:00</updated><title type='text'>Menyongsong Perhelatan Komunitas Sastra Cyber Kemudian.com</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;salam sastra,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Salah satu sahabat saya, Dino F. Umahuk, memberi tahu saya bahwa ia telah menulis pengantar resensi di Kemudian.com dengan kajiannya yang lumayan komplit seputar dunia sastra cyber, sejarah dan fenomenanya. Maka di tengah kesibukan menyelesaikan program proposal saya tergugah untuk ikut sedikit memberikan catatan pengantar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seperti beberapa waktu lalu saat saya membuka milis Bunga Matahari, menyimak milis kemudian.com seperti menjejakkan kaki ke dunia penuh warna. Dunia anak-anak muda dengan tulisan-tulisan mereka yang spontan, berani dan penuh semangat. Saya seakan sedang membayangkan berjalan-jalan di sebuah mall dengan dinding-dinding berhiaskan lukisan kata-kata. Begitu lugas, sederhana dan terkadang apa adanya. Tulisan-tulisan mereka begitu dinamis. Ungkapan perasaan jiwa sedih atau gembira hadir tetap dengan warna kesegarannya. Seperti obrolan mereka di kantin sekolah, kedai kampus atau &lt;em&gt;cafe-cafe&lt;/em&gt;. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya tidak sedang ingin memperdebatkan apakah karya-karya mereka sudah memiliki kualitas karya sastra. Bagi saya tidak penting. Kemauan dan keberanian menulis serta mempublikasikan tulisan dalam sebuah komunitas milis, lalu di apresiasi oleh teman-temannya sudah merupakan awal sebuah proses yang baik. Semakin sering menulis, keterampilan memilih dan memilah kata dengan sendirinya akan terus terasah. Semakin banyak pergulatan dalam interaksi sosial, akan makin mematangkan jiwa dan memungkinkan mereka mampu menuangkannya dalam beragam tema. Tentu saja nantinya tema sesederhana apapun akan tetap hadir dengan padat, dalam dan dengan kesegarannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menilik nama situs “Kemudian.com” saya sedang menduga-duga. Mungkin pemilihan nama ini memang berangkat dari kesadaran bahwa mereka sedang berproses, melatih diri, mengembangkan kemampuan menulisnya. Kesadaran untuk berproses tanpa merasa digurui membuat siapa saja yang menjadi anggota di dalamnya tetap dapat mengekspresikan perasaan dengan &lt;em&gt;enjoy&lt;/em&gt; dan tanpa beban. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ya, pada dasarnya betapa menyenangkan dapat menulis tanpa merasa terikat kaedah-kaedah yang rumit. Biarlah sementara ada pihak-pihak yang merasa paling memahami bahasa sastra. Lalu menghadirkan sajak-sajak rumit dan pelik dalam media cetak bergengsi. Yang kadang-kadang saya pun sering mengernyitkan dahi membacanya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di awal-awal saya menulis, lewat seorang teman, sajak-sajak saya diresensi oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Sitor Situmorang&lt;/span&gt;.  Saat saya ketemu dengan beliau dan bertanya &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;apakah itu puisi? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beliau menjawab, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Puisi bukan dakwah para biksu, pendeta atau ustad, puisi akan menjadi puisi jika ia tidak menyimpulkan apalagi menggurui, puisi akan menjadi puisi jika ia mampu menjadi bahan renungan dan inspirasi bagi setiap pembacanya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada hal menarik yang patut dicatat dalam kegiatan milis seperti Kemudian.com ini. Di samping selalu padat dengan lalu lintas postingan tulisan-tulisan anggotanya, yang membuat mereka tetap saling mempunyai ikatan kecintaan terhadap milis sebagai rumah “curhat”, ada hal lain yang juga tak kalah menarik. Mereka membuat produk semacam pembatas buku atau t-shirt dengan kemasan yang menarik lalu ditawarkan kepada setiap anggotanya. Hal-hal yang tampaknya sepele ini sangat mungkin dilakukan oleh komunitas dengan networking sebagai medianya. Dan ini entah disadari atau tidak telah mampu membuat sebuah ikatan persahabatan tetap solid, dan dengan suasana yang guyup. Betapa indah di tengah kesumpekan hidup dan sesaknya nafas kota.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Patut di syukuri, di samping menulis, para awak milis Kemudian.com juga menyadari pentingnya membaca buku-buku sastra. Windry Ramadhina misalnya, nahkoda dari milis Kemudian.com ini dalam satu perbincangan dengan saya lewat YM, lagi asyik masyuk menyimak kumpulan cerpen atau novel dari penulis-penulis ternama di tanah air saat ini. Keinginan membaca sastra akan dengan sendirinya hadir saat mereka membutuhkannya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya saya akan siap-siap terkejut di kemudian hari, lewat Kemudian.com, akan lahir penulis-penulis handal. Semoga.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jadi, tetap semangat!&lt;br /&gt;Menulis? siapa takut?!&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-8100339058919702919?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/8100339058919702919/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=8100339058919702919&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/8100339058919702919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/8100339058919702919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2007/11/menyongsong-perhelatan-komunitas-sastra.html' title='Menyongsong Perhelatan Komunitas Sastra Cyber Kemudian.com'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-57789308421651836</id><published>2007-11-17T00:55:00.000-08:00</published><updated>2007-11-17T01:01:54.452-08:00</updated><title type='text'>Apalagi Mesti Kucatat?</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;: fina sato&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sementara waktu masih berbingkai penat&lt;br /&gt;kurasakan getar senyummu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berarak melintasi langit yang kelabu&lt;br /&gt;dan selarik kabar menampar&lt;br /&gt;di tengah khusyukku&lt;br /&gt;"hari ini aku ultah" katamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kulihat hari mengeras&lt;br /&gt;dan jejakmu menyelinap&lt;br /&gt;di antara celah sajak yang koyak&lt;br /&gt;mungkin tak cukup&lt;br /&gt;kau rayakan bahagia itu sendiri saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;br /&gt;**ini sajak ultah untuk sahabatku fina sato di bandung&lt;br /&gt;aku tulis di bulam februari 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-57789308421651836?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/57789308421651836/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=57789308421651836&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/57789308421651836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/57789308421651836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2007/11/apalagi-mesti-kucatat.html' title='Apalagi Mesti Kucatat?'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-7545777560742858037</id><published>2007-07-07T08:56:00.000-07:00</published><updated>2007-07-07T09:05:40.752-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;RUMAH PUISI DUNIA MAYA - dengan Blog siapa pun bisa menjadi sastrawanOleh : Qaris Tajudin(Koran Tempo, Ruang Baca, Februari 2007)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;"Every writer mus have an address," kata Cythia Ozick. Setiap penulis memiliki 'rumah'. Dan di dunia maya, para penulis mendapatkan pada blog. Berbeda dengan mailing list yang menjadi tempat mereka berbagi dan berdiskusi, blog adalah sesuatu yang lebih personal.  Orang boleh singgah, tapi mereka adalah tamu. Pengunjung boleh ada, tapi kehadiran mereka bukan inti keberadaannya. Blog adalah eksistensi pemiliknya. Popularitas blog yang meroket sejak pergantian milenium ini memunculkan demokratisasi (untuk yang kesekian kalinya) di ranah maya. Tanpa duit dan prosedur berbelit, setiap orang bisa memiliki tempat di internet. Ini mengundang banyak orang untuk mematok kapling di dunia maya. Tak perlu diisi dengan hal-hal serius, toh kita bisa mendapatkannya dengan amat mudah. Lebih mudah dari menulis di buku diari.Para blogger menumpahkan muntah mantihnya di sana. Termasuk puisi. Kalau saja W.S. Rendra lebih muda beberapa puluh tahun, ia pasti tak menulis kumpulan puisi Sajak-sajak Sepatu Tua di buku pola baju.  Ia, seperti  juga para sastrawan muda masa kini, pasti akan menumpahkannya di sebuah blog warna-warni.Untuk Indonesia saja, kita bisa menemui ribuan blog sastra - kalau kita setuju memakai istilah itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt; Memang, banyak juga  yang puisi-puisinya seperti puisi remaja yang baru jerawatan, seperti puisi-puisi yang selama ini banyak ditulis di diari warna jambon. Tapi ada juga yang menampilkan curahan isi hati dengan lebih baik.Coba jenguk karena berbagi cinta itu indah (suratcinta.blogspot.com). Menurut pemiliknya, blog ini adalah, "Album surat-surat cinta kepada kekasih, keluarga, siapa saja yang tercinta. Surat-surat di album ini dikoleksi dari beberapa milis, kamar chatting, maupun e-mail pribadi."Karena surat, tidak mesti dibuat dalam bentuk bait-bait puisi yang pendek, seperti dalam Surat Buat Bunda:&lt;br /&gt;kadang hari jadi demikian melelahkan,ibunda, ruang menujumu tiba-tiba saja terasa luas dan jauhingin nanda ceritakan tentang sayap-sayap yang tak henti belajar terbangmencari setiap celah untuk memperpendek jarak mempersempir ruang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Yang jelas, blog amat menguntungkan para sastrawan amatir.  Amatir ? Anda boleh tak setuju, tapi blog-blog "sastra" memang didominasi oleh para sastrawan amatir. Maksudnya, mereka yang hanya menulis puisi untuk blognya. Yang hanya ingin mengungkapkan apa yang bergemuruh di dalam hatinya dan berkecamuk di dalam kepalanya. Yang belum tentu ingin menerbitkan buku puisi, apalagi disebut sastrawan. Tapi bukan berarti puisi yang mereka buat amatiran.Misalnya saat Nanang Suryadi (nanangsuryadi.blogspot.com) yang menulis puisi tentang anaknya :&lt;br /&gt;ayah tak bisa menggambar bunga,atta saja, pasti bisa&lt;br /&gt;atta menggambar bunga,anggrek yang bunda siram, sudah berbunga&lt;br /&gt;bunganya kuning, merah,ada bintik-bintik hitam juga&lt;br /&gt;atta menggambar bunga,di lantai dan tembok rumah&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;Memang, para sastrawan blog ini banyak juga yang tergabung dalam milis-milis sastra, atau setidaknya, mereka mengirimkan puisi ke situs-situs sastra seperti Cybersastra (cybersastra.net). Tapi blog adalah rumah mereka. Di blog mereka memiliki kekuasaan untuk berkreasi.Bedanya dengan milis sastra yang karya-karya yang dikirim adalah yang terbaik, dalam blog orang bebas menggunakan bahasanya sendiri. Ada yang nyaman menulis puisi dalam bahasa Inggris, ada yang lebih senang memakai bahasa cakap sehari-hari, ada juga yang menyingkat penulisan kata seperti dalam pesan pendek.Bagi mereka, sajak bukan cuma tentang gemintang dan danau di ketiak gunung. Mereka yang hanya ingin mengungkapkan apa yang mereka rasakan lewat puisi, bisa juga bicara soal koran kota yang penuh liputan kriminal atau tentang televisi seperti di Sejuta Puisi (sejutapuisi.blogspot.com) milik Hasan Aspahani :&lt;br /&gt;Nonton TV hari ini&lt;br /&gt;sembilan stasiun televisiacaranya sama: kartun Tom &amp; Jerry&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Tapi tentu saja, blog juga untuk mereka yang serius nyastra seperti Zai Lawanglangit (Kutulis Puisi: zaylawanglangit.blogspot.com) atau Zabidi Ibnoe Say yang puisinya diterbitkan dalam sejumlah buku seperti Bisikan Kata, Teriakan Kota (DKJ &amp;amp; Bentang Budaya, 2003), Dian Sastro for President#2:Reloaded (AKY-Bentang, 2003), Buku Antologi Puisi Maha Duka Aceh (PDS HB Jassin, 2005) dan Cyberpunk "Les Cyberlettres" (YMS, 2005).  Hal yang sama juga dilakukan oleh Arwan di arwan.blogspot.comAda juga tidak cuma menulis puisi, tapi juga memberi review soal blog-blog sastra lain yang pernah ia kunjungi.  Ini dilakukan oleh Malina Sofia dalam Folder Malina (malinasofia.blogspot.com).  Ia, misalnya, menulis tentang blog Hasan Aspahani, Ninus (ritualmalam.blogspot.com), atau Medy Loekito.  Begini ia bilang tentang Medy: "Medy Loekito [ML], penyair yang menjadi ibu bagi komunitas penyair cyber ini memiliki warna puisi yang unik, yang berbeda dari warna puisi penyair-penyair lain. Saya menuduh penyair ML adalah pemuja kesunyian dan kesunyian pulalah yang menjadi jiwa puisi-puisinya: 'engkaulah sepi/wujud maya kata//engkaulah kata/wujud nyata sepi' (Puisi, Engkaukah)."Tapi kenapa puisi ? Kenapa sebagian besar blog yang memuat karya sastra hanya berisi puisi ? Ke mana cerita pendek atau panjang ? Ke mana bentuk-bentuk sastra lainnya ? Ada sih, tapi tak banyak. Lalu kenapa ? Tak perlu bingung. Ini semua disebabkan oleh karakter blog yang seperti buku harian, seperti kantong muntah yang tersedia di belakang setiap kursi pesawat. Ia menampung gejolak yang ingin dikeluarkan dari diri pemiliknya. Lintasan-lintasan sesaat yang memang hanya cocok ditumpahkan dalam bentuk puisi.Karenanya, isi dan kualitasnya bisa macam-macam. Tapi jangan sesekali membaca blog sastra dengan pikiran seorang kritikus sastra yang bernafsu besar. Puisi dan blog itu tidak dibuat untuk dinilai. Mereka hadir untuk berbagi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-7545777560742858037?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/7545777560742858037/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=7545777560742858037&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/7545777560742858037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/7545777560742858037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2007/07/rumah-puisi-dunia-maya-dengan-blog.html' title=''/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-3205221119199222706</id><published>2007-03-30T00:01:00.000-07:00</published><updated>2007-03-30T01:56:03.508-07:00</updated><title type='text'>my last day</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: arial; font-style: italic; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;30 maret 2007, memberi saya sebuah catatan penting&lt;br /&gt;ketika pada akhirnya saya sanggup membuat sebuah keputusan&lt;br /&gt;berhenti menjadi pegawai di sebuah perusahaan periklanan&lt;br /&gt;lalu mau kemana? tanya banyak kawan&lt;br /&gt;mau jadi penyair ya? tanya yang lain&lt;br /&gt;saya belum sanggup jadi "kere" jawab saya asal-asalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat saya katakan tak lagi kerja di periklanan (dalam arti menjadi pegawai di sebuah agency)&lt;br /&gt;tapi hal itu lantas bukan berarti saya berhenti melakukan kegiatan advertising&lt;br /&gt;justru bidang baru yang akan saya tekuni nanti sangat dekat dan bahkan senantiasa membutuhkan pendekatan-pendekatan advertising&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semoga saja apa-apa yang akan dan bakal saya kerjakan&lt;br /&gt;diberikan kemudahan jalan oleh Tuhan...&lt;br /&gt;semoga...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dibawah ini surat perpisahan saya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);"&gt;saya perhatikan dengan seksama sidik jari tangan saya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial; font-style: italic; color: rgb(204, 102, 0);"&gt;sebelum ia menerobos masuk kedalam lubang seperti rongga mulut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial; font-style: italic; color: rgb(204, 102, 0);"&gt;dan menyentuh kaca sensor absensi di lantai dua-dua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial; font-style: italic; color: rgb(204, 102, 0);"&gt;hmm. saya merasa ia sangat menikmatinya dan mungkin ia akan merindukannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial; font-style: italic; color: rgb(204, 102, 0);"&gt;karena hari itu adalah terakhir kalinya ia berjumpa dengan kaca sensor yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial; font-style: italic; color: rgb(204, 102, 0);"&gt;telah begitu lama diakrapi sang jemari,  saat ia datang pagi, siang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial; font-style: italic; color: rgb(204, 102, 0);"&gt;ataupun kala ia pulang sore atau larut malam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial; font-style: italic; color: rgb(204, 102, 0);"&gt;maka sengaja saya biarkan ia (jemari saya) agak lama menyentuhnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial; font-style: italic; color: rgb(204, 102, 0);"&gt;barangkali ia perlu mengucapkan kata-kata perpisahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial; font-style: italic; color: rgb(204, 102, 0);"&gt;tentu saja sebagai jemari biasa ia juga tak lepas dari salah dan khilaf&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial; font-style: italic; color: rgb(204, 102, 0);"&gt;terkadang ia menekan sahabatnya dengan tergesa-gesa,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial; font-style: italic; color: rgb(204, 102, 0);"&gt;kadang terlalu keras, bahkan dengan tubuh bau keringat dan penuh daki ia memeluknya,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial; font-style: italic; color: rgb(204, 102, 0);"&gt;tapi sang kaca sensor absensi sahabatnya itupun tanpa pernah mengeluh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial; font-style: italic; color: rgb(204, 102, 0);"&gt;bahkan dengan gembira tetap menyambutnya, dan mencatatnya!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial; color: rgb(204, 102, 0);"&gt;:)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial; color: rgb(204, 102, 0);"&gt;to all my friends,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial; color: rgb(204, 102, 0);"&gt;today is my last day in dentsu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial; color: rgb(204, 102, 0);"&gt;thanks for a good time and a bad time&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial; color: rgb(204, 102, 0);"&gt;you have given me a lot of knowledge&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial; color: rgb(204, 102, 0);"&gt;forgive me if I have a mistake&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial; color: rgb(204, 102, 0);"&gt;of course, it is proud of me&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial; color: rgb(204, 102, 0);"&gt;that I have taken part in dentsu Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial; color: rgb(204, 102, 0);"&gt;regard,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial; color: rgb(204, 102, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);"&gt;zai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-3205221119199222706?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/3205221119199222706/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=3205221119199222706&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/3205221119199222706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/3205221119199222706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2007/03/my-last-day.html' title='my last day'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-6190583049593635275</id><published>2007-02-28T01:30:00.000-08:00</published><updated>2007-02-28T03:05:04.891-08:00</updated><title type='text'>sematkan pita hitam</title><content type='html'>&lt;a id="thelink" onclick="return fitsInWindow();"&gt;&lt;img style="width: 373px; height: 242px;" id="thepic" onclick="scaleImg()" src="http://img151.imageshack.us/img151/6673/levinama9.jpg" title="Click to visit ImageShack for Image Hosting!" alt="img151/6673/levinama9.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;: guntur dkk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sematkan di lekuk hari. di teras nyeri&lt;br /&gt;di ceruk tunggu. di periuk haru. di erang ladang&lt;br /&gt;sematkan sepanjang rintih hujan. sepanjang detak ingatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sematkan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-6190583049593635275?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/6190583049593635275/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=6190583049593635275&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/6190583049593635275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/6190583049593635275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2007/02/sematkan-pita-hitam.html' title='sematkan pita hitam'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-5895718697229118556</id><published>2007-02-19T22:23:00.000-08:00</published><updated>2007-02-28T03:34:22.713-08:00</updated><title type='text'>kitapun berbagi puisi</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;seorang kawan dari jauh, payakumbuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kami pernah bertemu sekali saja, di taman ismail marzuki&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ketika sajakku dan sajaknya bersanding dalam sebuah buku antologi puisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"bisikan kata teriakan kota" di tahun 2003&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tapi sejauh payakumbuh - bekasi,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;saya telah lebih jauh mengenal sajak-sajaknya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;lelaki dari payakumbuh itu, iyut fitra.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;seorang teman berbagi kabar bahwa hari itu di bulan februari, ia ulang tahun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tepat di bulan yang mana akupun lahir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;maka kitapun lantas berbagi kado puisi..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dan sajakmu masih saja mengetuki&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;: iyut fitra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari jauh sajakmu tumbuh&lt;br /&gt;dengan tunas-tunas bersayap&lt;br /&gt;ada yang terlanjur singgah&lt;br /&gt;di laci kenangan&lt;br /&gt;di gerai hari yang menyimpan senyap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan sajak mu masih saja mengetuki&lt;br /&gt;beratus-ratus pintu pagar kesendirianku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"selamat ulangtahun kawan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;zai lawanglangit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;membakar usia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:zai lawanglangit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemudian ada orang bersinggahan, tiba-tiba&lt;br /&gt;saling berbagi simpang&lt;br /&gt;menjelaskan segala peluh sebagai peta: bukalah!&lt;br /&gt;di tikung keberapa kita sempat mencatat nama-nama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o, wahai. di tepi almanak yang tekun mengikuti gundah langkah&lt;br /&gt;bakarlah usia&lt;br /&gt;biarkan debunya tertinggal sebagai ranjang. dan api yang menyala&lt;br /&gt;menyulut birahi esokmu. bakarlah, kawan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;SELAMAT ULANG TAHUN JUGA.&lt;br /&gt;SALAM UNTUK SEMUA TEMAN-TEMAN KITA.&lt;br /&gt;DAN MARI SELALU BERBAGI. HIDUP INI INDAH!&lt;br /&gt;SALAM!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;iyut fitra&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-5895718697229118556?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/5895718697229118556/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=5895718697229118556&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/5895718697229118556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/5895718697229118556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2007/02/kitapun-berbagi-puisi.html' title='kitapun berbagi puisi'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-116539213419483350</id><published>2006-12-05T23:34:00.000-08:00</published><updated>2006-12-12T22:59:13.620-08:00</updated><title type='text'>unleashhhhhh...</title><content type='html'>&lt;a href="http://imageshack.us/?x=my6&amp;amp;myref=http://www.imageshack.us/" id="thelink" onclick="return fitsInWindow();"&gt;&lt;img style="width: 408px; height: 191px;" id="thepic" onclick="scaleImg()" src="http://img139.imageshack.us/img139/1082/jejakbanenteaseradxw9.jpg" title="Click to visit ImageShack for Image Hosting!" alt="img139/1082/jejakbanenteaseradxw9.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;betapa cepat waktu berlalu...kata-kata itu kayaknya bakal abadi untuk dijadikan legitimasi tentang keabsahannya. tiba-tiba saja kita sudah dihadapkan di penghujung bulan desember. sudah ngapain aja ya setaon ini? hehe. wong kayaknya memilah-milah rencana aja belum ketemu ujungnya, we lha kok udah mau abis taonnya. belum hilang ingatan heboh mudik dua bulan kemarin. orang rumah udah nanya “akhir taon jalan-jalan kemana nih?”. waduh bingung...bikin pengajuan cuti ke atasan aja belum lho. mau nanya dulu ah, masih punya jatah cuti berapa hari. maklum pegawai rendahan, jatah cuti 12 hari udah kepotong cuti lebaran, absen ga pakai ijin, apa masih ada sisa cuti ya...tanya staf hrd dulu ah...moga-moga ga sampai ngutang cuti kaya taon lalu :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bulan november kemarin terbilang bulan paling padat. ngantor ga standard jam normal. berangkat pagi pulang pagi. libur sabtu minggu jadi hari kerja. bener-bener menyita waktu keluarga, jalan-jalan mingguan tertunda. istirahat kurang. alhamdulillah ga sampe tepar. semuanya gara-gara musti nyiapin lounching produk mobil barunya toyota. pertengahan desember ini semuanya musti udah ready dan ditayangkan. materi promosi dari tvc, radio, print ad hingga printilannya...yang puluhan itu musti siap! okey bos...kita teruskan perjuangan (berjuang terus, kapan ya merdekanya..:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi yang bikin sedih “ga ada jatah waktu nulis puisi..” hik&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-116539213419483350?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/116539213419483350/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=116539213419483350&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/116539213419483350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/116539213419483350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2006/12/unleashhhhhh.html' title='unleashhhhhh...'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-115227135888027237</id><published>2006-07-07T04:20:00.000-07:00</published><updated>2006-07-24T02:16:01.376-07:00</updated><title type='text'>Pelarian</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(204, 51, 204); font-style: italic;"&gt;Cerpen: Zay Lawanglangit &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggoro berlari terengah-engah, nafasnya memburu seperti sekawanan domba yang dikejar serigala. Ia menyusuri lorong-lorong waktu menyelinap ke dalam celah-celah rumpun gelisahnya. Melompati kecemasan-kecemasan yang tiba-tiba seperti bermunculan dari segala arah.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hanya beberapa saat ia menghentikan langkah. Mengusap keringat yang mengucur membasahi sekujur tubuh. Dingin teramat dingin keringatnya, jauh lebih dingin dari angin malam yang menyapu menderu-deru. Seperti layar perahu para nelayan yang terombang-ambing dihempas gelombang dan angin pasang. Lalu kembali ia berlari menerobos semak-semak basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyisir jalanan tanah berbatu. Terus dan terus berlari, sepertinya ia ingin melewati, meninggalkan jauh bayangannya sendiri yang terus membuntuti.Dua kilometer di belakangnya kaki-kaki berlari dengan teriakan mengancam. Obor-obor menyala dalam genggaman tangan kiri. Tombak, golok, parang dan pentungan teracung di tangan kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan biarkan bajingan itu lepas!”&lt;br /&gt;“Ya kita ringkus dia mati atau hidup”&lt;br /&gt;“Kita gantung saja di kuburan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan! Kita kuliti dulu baru di gantung di pohon!” suara-suara dengan nafas memburu yang berselimut kemarahan sahut menyahut dalam gelap malam. Mereka terus bergerak menyusuri jalan mendaki arah perbukitan. Selewat bukit pasir itulah membentang pantai juga pelabuhan. Nampak layar-layar perahu dalam shilouet malam. Didera angin laut yang bertiup kencang. Diantara perahu-perahu yang bersandar itulah sesosok bayang mengendap-endap. Mencoba menyisir celah-celah papan kayu menghindari puluhan tatap mata yang siap menjagal.&lt;br /&gt;Setelah merasa mendapatkan tempat persembunyian di dalam lambung kapal paling belakang, direbahkannya badan, duduk bersandar pada bilah-bilah papan. Menunggu saat yang tepat untuk keluar dari tempat itu menuju tempat yang jauh. Pergi ya... pergi secepatnya, tapi tentu saja ia harus sabar sampai tiba saat yang tepat. Sementara mengatur degub jantung dan deru nafas, angannya melayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia hanya seorang pecundang yang selalu gagal. Garis nasib memberikan satu predikat “Kaulah pelarian!” Dan seorang pelarian tak pernah sanggup menghilangkan aura kecemasan. Setiap mata yang berpapasan perlu dicurigai. Jangan-jangan di saat itulah awal sebuah ancaman datang. Ia harus hati-hati. Sangat hati-hati. Hal pertama yang dilakukan adalah mengganti identitas diri. Misalnya nama, bentuk muka dan potongan rambut. Kalau perlu logat bahasa pun dirubah. Jangan menyisakan ruang sedikit pun untuk menampilkan sesuatu yang dapat menimbulkan kecurigaan. Karena sekali hal kecil terbuka maka selesailah sudah alinea dalam lembar catatan yang segera akan menuliskan “Matinya sang pecundang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pelariannya yang ketiga, pertama kali adalah lima tahun lalu. Saat pemilihan kepala desa. Salah satu calon kuat memintanya membantu mencari pendukung. Karena ia cukup dikenal dan banyak teman berkat pergaulan dengan semua kalangan. Setelah bisik sana sini dengan cepat terkumpul lebih dari empat puluh persen pemilih siap mencoblos gambar “mangga” lambang calon gacoannya, dengan syarat malam sebelum coblosan amlop berisi uang sudah harus diserahkan ke semua calon pemilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana sudah disiapkan matang. Tapi hingga saat yang dijanjikan hanya sedikit orang datang mengambil amplop. Rupanya tanpa diduga calon lainnya telah bergerak lebih cepat. Menjemput para pemilih dan mengkarantina dirumahnya yang luas. Diberi makan dan uang lebih besar. Mendengar kabar itu ia panik dan kelabakan, uang sogokan sudah ada ditangan tapi hanya sedikit yang datang. Padahal ia bersumpah rela digorok jika janji kemenangan untuk “gacoannya” tak terbukti. Maka sebelum hal buruk terjadi ia memilih lari meninggalkan desa kelahiran dari ancaman tukang pukul “gacoannya” yang kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelarian keduanya terjadi saat ia pindah keluar kota, nasib baik masih tersisa. Seorang pengusaha menerimanya menjadi sopir pribadi. Mengantar dan menjemputnya ke kantor. Pengusaha itu punya anak lelaki yang masih remaja. Sampai peristiwa malang itu menimpa. Mobil yang biasa ia bawa menabrak kerumunan orang di pinggir pasar saat anak pengusaha itu belajar mengemudi bersamanya. Hanya gara-gara menghindari kambing yang menyeberang. Menghindari amukan orang seluruh pasar ia memilih kabur meninggalkan anak majikan yang pingsan bersimbah darah dalam kendaraan. Lari sekencang-kencangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam menggeliat dalam desir angin laut yang makin tajam. Perahu-perahu bergoyang dimainkan hempasan ombak. Telinganya makin jelas menangkap suara langkah-langkah kaki. Cahaya dari obor-obor ditangan menerangi langit yang muram. “Cari terus!, periksa setiap sudut perahu siapa tahu ia ngumpet disana!” perintah dari lelaki berkumis, pemimpin dari para pemburu. Orang-orang kampung nelayan yang marah. Karena teh Mimin perempuan sintal pengusaha perahu yang menjadi juragan mereka ditemukan mati dikamarnya. Ada saksi mata yang melihat Anggoro melompat dari jendela kamar selang usai kejadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggoro merapatkan lagi kakinya, menekuknya agar bisa masuk lebih ke dalam ruang sempit dibawah tumpukan kayu dalam kapal.&lt;br /&gt;Tiba-tiba melintas bayangan kejadian beberapa saat yang lalu. Mimin ya Mimin, semua berawal dari perempuan itu. Anggoro telah terpikat begitu melihatnya, perempuan pemilik beberapa perahu yang di sewakan untuk para nelayan. Perempuan yang kesepian, suaminya seorang pelaut yang hanya tiga bulan sekali pulang. Lelaki berjambang dan berkumis lebat yang datang hanya untuk melampiaskan gairah lelakinya saat singgah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang satu hingga dua hari lelaki berjambang itu kemudian berlayar lagi. Lelaki yang tak banyak bicara, kecuali aroma alkohol dari dengus nafasnya yang memburu diatas ranjang., mulutnya mirip kerbau tak henti melengus, hanya beberapa inchi diatas hidung dimana mimin telentang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki yang tak pernah bertanya tentang perasaan istrinya. Petang itu seperti biasa Anggoro bertandang ke rumah Mimin. Ngobrol di teras depan, di halaman nampak rintik-rintik hujan. “Ini kopi panasnya, Bang.” sapa Mimin dengan senyum manja.“Terima kasih.” Anggoro membalas sambil menghirup kopi dari bibir gelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimin menatapnya tak berkedip. Mimin telah menyukainya sejak awal ia datang berpakaian lusuh dan meminta pekerjaan. “Lelaki yang tampan berbadan sedang dengan rambut lurus tebal” bisiknya. Maka Anggoro diberinya pekerjaan membantu menarik uang sewa perahu para nelayan. Anggoro bukan tidak tahu bahwa perempuan itu menyukainya. Perempuan berkecukupan, menarik, dengan kulit sawo matang, leher jenjang dan rambut terurai hitam panjang. Dan petang itu ia melihat Mimin dengan dandanan yang istimewa. Gaun tipis dengan belahan terbuka pada bagian dada. Ada bau harum aroma melati saat tangannya tadi menghidangkan kopi, ditambah senyum itu, senyum pengharapan. Jantung Anggoro berdesir, darahnya bertambah deras mengalir. Tiba-tiba tangan halus mimin meraih tangannya.&lt;br /&gt;“Ayo bang masuk ke dalam, gerimis makin deras nanti basah lho!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kerbau dicocok hidungnya Anggoro pasrah saja dituntun ke dalam ruang tengah dan melangkah terus masuk ke kamar. Anggoro sejenak terhenti di mulut pintu. “Ayolah! Tak ada siapa-siapa...” bisik manja Mimin mencoba meyakinkan. Malam merangkak pelahan. Gemuruh hasrat memompa seluruh birahi paling purba. Dua tubuh saling tindih dalam temaram dan bayangan deras hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Brauaak!” suara pintu ditendang. Sesosok tubuh berdiri mematung di tepi ranjang, ada suara gemeretak rahang. Wajah Mimin pucat, bulu kuduk Anggoro berdiri. Birahi yang mendekati puncak cair seiring suara bentakan garang. “Bangsat kalian!, dasar perempuan sundal tak tahu diri!” Lelaki berjambang dengan bau alkohol di mulutnya tegak menggenggam sebilah parang. Secepat kilat tangan itu menghujam. Anggoro beruntung mampu berkelit ke belakang. Akibatnya parang bersarang tepat ke dada Mimin yang segera terkapar bersimbah darah. Dengan hanya bercelana Anggoro melompat keluar jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perampok, pembunuh!” teriak lelaki berjambang itu sambil berlari keluar rumah. “Kejar ia, bawa ke sini hidup atau mati!” teriaknya berulang. Kaki-kaki berlari menuju arah telunjuk dari lelaki berjambang. “Mana dia!” “Ke sana!” sahut yang lainnya.&lt;br /&gt;Anggoro terus berlari mempercepat larinya, nafasnya memburu seperti sekawanan domba yang dikejar serigala. Ia menyusuri lorong-lorong waktu menyelinap kedalam celah-celah rumpun-rumpun gelisahnya. Melompati kecemasan-kecemasan yang tiba-tiba seperti bermunculan. Hanya beberapa saat ia menghentikan langkah. Mengusap keringat yang mengucur membasahi sekujur tubuhnya. Dingin teramat dingin keringatnya, jauh lebih dingin dari angin malam yang menyapu menderu-deru. Seperti layar perahu para nelayan yang terombang-ambing dihempas gelombang dan angin pasang. Lalu kembali ia berlari menerobos semak-semak basah. Menyisir jalanan tanah berbatu. Terus dan terus berlari, sepertinya ia ingin melewati, meninggalkan jauh bayangannya sendiri yang terus membuntuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita segera berangkat, semua siap!” kata sebuah suara lantang. Tali jangkar ditarik. Deru mesin membahana. Kapal bergerak perlahan meninggalkan dermaga. Hari masih pagi udara bersih, langit jernih. Tapi tidak dengan Anggoro, tadinya ia sempat gembira karena kapal benar-benar tarik jangkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana laporan pencarian?” tanya kapten kapal.&lt;br /&gt;“Semua jalan sudah ditutup, semua tempat sudah digeledah, kecuali satu Pak!”&lt;br /&gt;“Dimana itu?”&lt;br /&gt;“Dibawah Pak, dalam tumpukan kayu. Tinggal disana kemungkinanya!”&lt;br /&gt;“Cepat cari. Kalau dapat, cincang atau bakar dan buang mayatnya ke laut!”&lt;br /&gt;“Siap Pak!”&lt;br /&gt;Kini ada badai lebih besar yang siap meluluhlantakkannya. Ia seperti mengenal suara kapten kapal. Ya, suara suami Mimin, lelaki berjambang itu.***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-115227135888027237?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/115227135888027237/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=115227135888027237&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/115227135888027237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/115227135888027237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2006/07/pelarian.html' title='Pelarian'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-115009835340494351</id><published>2006-06-12T00:35:00.000-07:00</published><updated>2006-06-12T00:48:43.063-07:00</updated><title type='text'>"Siapa bakal menduga?"</title><content type='html'>Siapa bakal menduga ketika orang ramai memperbincangkan bahaya merapi, ternyata suratan takdir berkehendak lain. Semua boleh berencana tentang sebuah ikhtiar untuk menyelamatkan sesama. Ketika semua enerji dan dana difokuskan untuk persiapan penanggulangan pra dan paska letusan merapi. Ketika hampir setiap orang memperbincangkan mbah Maridjan yang enggan turun gunung. Ketika semua media cetak dan elektronik menayangkan lelaku Si mbah di lereng merapi. Tentang ritual-ritualnya dengan laku bisu di sepertiga malam. Tentang Sultan sebagai pejabat gubernur, hingga presiden yang memintanya untuk mengungsi, mbah Maridjan tak bergeming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbah Maridjan hanyalah sosok yang berani menjalani tanggung jawab yang diembannya menjadi juru kunci merapi. Ia mungkin percaya tentang garis nasib, bahwa segala sesuatu telah ditentukan. Bagi Mbah Maridjan sekarang atau nanti kalau memang takdir menghendaki ia siap menjalani dengan penuh rasa tulus. Setulus cintanya mengemban tugas yang diamanahkan kepadanya untuk menjaga merapi. Dan dia siap berdiri di barisan paling depan menyongsong bahaya yang mungkin saja setiap saat menerjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemimpin negeri ini mestinya bisa belajar dari laku mbah Maridjan. Ketika akhirnya bencana dahsyat yang lebih besar datang dan sekali lagi tak terduga. Maka yang tampak adalah sikap panik dan saling melempar tanggung jawab. Masih segar dalam ingatan kita tentang bencana Tsunami di Aceh, dan kita tak juga mengambil hikmah pelajaran darinya. Penanganan para korban tetap saja buruk. Insitusi semacam bakornas, bakornasda, satkorlak dan lainnya yang diharapkan menjadi ujung tombak malah menjadi beban bagi efektifitas penanggulangan situasi gawat darurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah Istimewa Yogyakarta adalah wilayah yang sebenarnya tak terlalu luas. Dari pusat penanggulangan bencana ke daerah yang parah tertimpa musibah tak lebih dari 30 km. Gempa berkekuatan 5,9 SR yang meluluhlantakkan wilayah mulai dari Kabupaten Bantul, Kotamadya Yogyakarta hingga Kabupaten Sleman dan sekitarnya masih menyisakan akses jalan yang memungkinkan dilalui kendaraan roda empat untuk pengiriman bantuan logistik. Tapi hingga hari ketiga dan keempat masih saja menyisakan cerita duka, masyarakat yang tak lagi mempunyai tempat berteduh kecuali dibawah tenda-tenda yang sederhana terpaksa bertahan dengan perut kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mungkin tak perlu mempunyai pemimpin seperti Sang Khalifah Umar ibnoe khatab. Bagaimana ia demikian merasa berdosa melihat ada seorang ibu yang terpaksa merebus batu demi menenangkan anak-anaknya yang lapar. Dan dengan punggungnya sendiri sang Khalifah menggendong sekarung gandum untuk diserahkan kepada ibu yang malang itu.&lt;br /&gt;Kita barangkali hanya membutuhkan pemimpin-pemimpin yang mau tanggap dan cepat melakukan sesuatu saat menghadapi musibah apapun. Karena kita memang hidup diatas wilayah yang begitu rawan terhadap segala jenis bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa boleh buat, kita hanya sibuk berdebat bahkan bertengkar terhadap hal-hal yang tak menyangkut langsung harkat hidup rakyat banyak.&lt;br /&gt;Sikap pemimpin kita malahan sering menaruh curiga pada rakyat yang dipimpinnya. Rakyat yang papa karena rumahnya telah rata dengan tanah, bahkan harus dihardik saat dengan perasaan terpaksa meminta sedikit bekal di pusat penampungan bahan makanan untuk sekedar mengganjal perutnya. Mereka bukanlah manusia tamak dan rakus yang mampu menelan berton-ton beras karena punya sekian gudang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana gempa di DIY dan sekitarnya bukanlah musibah terakhir bagi bangsa ini. Suratan alam tentang bencana dalam berbagai bentuk akan selalu menuntut kita untuk tanggap dan cepat menghadapinya. Masih belum terlambat untuk memperbaiki sikap kita yang mungkin telah menyebabkan rakyat yang menderita makin teriris perasaannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-115009835340494351?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/115009835340494351/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=115009835340494351&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/115009835340494351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/115009835340494351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2006/06/siapa-bakal-menduga.html' title='&quot;Siapa bakal menduga?&quot;'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-115009332369066624</id><published>2006-06-11T23:14:00.000-07:00</published><updated>2006-06-11T23:31:14.790-07:00</updated><title type='text'>sebuah cerpen</title><content type='html'>“MONA”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segelas Juice Orange dan sepotong roti isi coklat keju terayun miring mengikuti gerak papan penyangga meja yang terlipat kembali, tangannya cepat bereaksi “ups, berhasil”. Jemari tangan telah menopang papan penyangga meja itu menjadi rata kembali, berbarengan dengan suara kaget dari mulut perempuan yang tak cukup sigap menyelamatkan menu paginya. Dia masih mendengar nafas lega saat menarik kembali punggung tangan sambil melirik seraut wajah yang berangsur pulih dari rasa kaget. “Terimakasih” ucapnya lembut, dengan sebaris senyum dan mata yang berbinar. Wow seperti ribuan galon air tercurah ke padang gersang. Sekali lagi ditolehkan wajah sambil berucap “kembali”. Dan seperti hanya mengikuti gerak naluri tangannya kembali terjulur yang segera disambut dengan uluran tangan dari jemari yang lentik, “Mona” katanya, “Ray” balasnya. Ia merasakan betapa lembut telapak tangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diluruskannya posisi duduk dengan mengencangkan kembali sabuk pengaman yang kendor karena upayanya menyelamatkan seporsi sarapan pagi seorang gadis. Segelas Juice Orange yang nyaris melelehi gaun putihnya. Matanya sudah terhenyak saat sekilas merengkuh wajah menawan yang telah menarik perhatiannya sejak check in di bandara Ngurah Rai - Bali. Gadis itu hanya membawa sebuah tas punggung dan tas tenteng hitam berisi laptop. Sementara lelaki bernama Ray mesti mengurus barang-barang ke bagasi yang memakan usianya beberapa menit. Saat semuanya beres gadis itu sudah tak nampak disepanjang koridor yang menuju ruang tunggu. Matanya tak henti mencari. “Sial, padahal ia tadi berdiri persis didepanku” gerutunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi siapa menduga bahwa ternyata sekarang gadis itu duduk disebelahnya. Dan ia mendapatkan momen untuk berkenalan dengannya. Paling tidak ia telah tahun namanya Mona ya Mona. Nama yang mudah diingat apalagi kalau dikaitkan dengan Monalisa. Lukisan karya Leonardo da Vinchi yang kesohor itu. Figure setengah badan seorang perempuan dengan ekspresi senyumnya. Tapi benarkah Monalisa seorang perempuan? Konon kata para ahli lukisan, Monalisa adalah karekter ambigu antara laki-laki dan perempuan. Dan menjadi lebih kuat lagi pendapat para ahli itu karena nama Monalisa adalah gabungan dari kata AMON dan L’ISA keduanya adalah nama dewa dan dewi kesuburan bangsa Mesir. Apakah pendapat ini benar, entahlah! Yang pasti Mona tidaklah berbadan subur seperti Monalisa dalam lukisan itu. Mona mungkin representasi standar kecantikan gadis-gadis metropolis seperti dalam tayangan iklan saat ini. Langsing, berkulit putih, berambut hitam, dengan wajah oval, mata yang bening, bibir merah basah merekah dan alis mata melengkung tebal. Amboi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesawat Boeing 747-320 dengan no. penerbangan GA 925 masih terbang diatas permukaan awan yang cerah. Mata Ray sejenak memandang keluar jendela kaca. Awan-awan putih berarak di langit yang tampak biru. Tapi keindahan pagi itu tentu saja tak terlalu menyita perhatiannya. Karena ada seseorang yang kini ada disebelahnya. Otaknya bekerja, bagaimana membuka percakapan dengannya.&lt;br /&gt;Melirik sebentar, tampak gadis itu meletakkan koran pagi yang rupanya sudah usai dibacanya.&lt;br /&gt;“Mau baca majalah?” spontan lelaki itu mendapat ide menawarinya dengan majalah yang sedari tadi ada dipangkuan. “Terima kasih” katanya sambil mengulurkan tangan menerima. Awal yang baik untuk membuka percakapan.&lt;br /&gt;“Mau pulang ke Jakarta ya?”&lt;br /&gt;“Ngga sih, ngabisin cuti ketemu temen-temen lama di Jakarta”&lt;br /&gt;“Ooo, terus kerja dimana?”&lt;br /&gt;“Konsultan perusahaan tambang di Singapura, Bang Ray sendiri?”&lt;br /&gt;“Aku kebetulan dipercaya jadi director di beberapa rumah produksi film komersial”&lt;br /&gt;“Asyik dong bikin-bikin iklan” katanya sembari membuka lembar majalah&lt;br /&gt;“Ya begitulah, asyik tapi kadang melelahkan juga”&lt;br /&gt;Gadis itu masih asyik membolak-balik halaman majalah. Mata Ray kembali menyapu hidung, dagu, bibir, mata dan alis yang indah. Wajahnya tiba-tiba lekat dalam memori otaknya. Ray menolehkan wajah kembali kejendela. Awan-awan putih masih berarakan. Dibakar cahaya matahari yang tampak semakin tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadi perdebatan di hati lelaki itu&lt;br /&gt;“Ayo cepat tanya nomer Hp nya?”&lt;br /&gt;“Ah, itu bukan lagi caraku”.&lt;br /&gt;“kamu jangan sombong, dia pasti akan dengan senang hati memberikan nomornya”&lt;br /&gt;“Tidak, kadang-kadang aku demikian menikmati ini. Aku hanya ingin memberikan kesan yang lain terhadapnya”.&lt;br /&gt;“Jangan nyesel dibelakang, kalau tak lagi bisa kontak-kontakan”&lt;br /&gt;“Ya, Itu berarti bukan jodoh”&lt;br /&gt;“Bagaimana mungkin bisa tahu jodoh atau ngga, kalau tak ada usaha“&lt;br /&gt;“Sudah kubilang aku tak mau”&lt;br /&gt;“Kenapa?”&lt;br /&gt;“Karena dia akan berfikir, aku sama saja dengan setiap lelaki. Ketemu cewek, tertarik, kenalan lalu minta nomer Hp.”&lt;br /&gt;“Itu tradisi sebuah perkenalan, atau kau bisa kasih ia kartu nama dan minta kartu namanya”&lt;br /&gt;“Ngga ah, basi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan terhenti, terdengar dari dalam kabin pemberitahuan dari awak pesawat.&lt;br /&gt;“Para penumpang pesawat Boeng 215 tujuan Denpasar - Jakarta, lima belas menit lagi pesawat akan mendarat di Bandara Sukarno Hatta, silahkan pakai sabuk pengaman Anda”&lt;br /&gt;“Oh my God, baru kali ini aku merasakan penerbangan dua jam kulalui secepat ini” gumam lelaki itu.&lt;br /&gt;Diperiksanya kembali sabuk pengaman yang sebenarnya masih terikat kencang. Lalu sejenak menoleh saat terdengar suara panggilan. Seraut senyum menawan merekah dari wajah rupawan. “Bang Ray, terimakasih majalahnya” katanya sambil mengulurkan tangan. Sejenak Ray menatap lagi wajah gadis itu, ada desir mengalir menuju ubun-ubun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, sekarang cepat tanyakan nomer HP nya, jangan berlagak”&lt;br /&gt;Hampir saja mulut lelaki itu mengucapkan tanya, tapi kembali ditahannya&lt;br /&gt;“ Ah, tidak. Berapa kali aku mengenal perempuan. Bertemu, kenalan, tukeran nomor HP, mengucapkan cinta, kencan tapi akhirnya bubaran, kau juga tahu khan?”&lt;br /&gt;“Lantas?”&lt;br /&gt;“ Kali ini aku akan mencoba dengan cara lain. Aku ingin serius menjalin hubungan dengan seseorang. Aku tidak lagi sedang bermain-main. Aku akan berdoa dengan sepenuh keyakinan “Tuhan kalau ia memang jodohku, suatu saat pertemukan aku dengannya”&lt;br /&gt;“Kau berubah sekarang, bukan lagi pecundang..ha..haa”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesawat mendarat mulus di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Perasaannya gamang, ada sesuatu yang perlahan-lahan menghilang. Kegembiraan yang mengental selama beberapa jam seperti cair. Layaknya bongkahan es yang tercampak di padang pasir. Atau cahaya matahari senja yang merayap pulang direngkuh cakrawala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampai ketemu Bang Ray” pamit Gadis itu sambil bangkit dari kursi dan beranjak jalan.&lt;br /&gt;“Ya..ya…sampai ketemu”&lt;br /&gt;Tampak gadis itu melangkah menuju pintu depan pesawat, menuruni anak tangga. Satu dua detik ekor matanya masih sempat menangkap punggungnya yang melangkah turun.&lt;br /&gt;Tangannya bergegas mengambil barang-barang, dua tas ransel dan satu koper. Dua ransel di punggung dan tangan kanan meninting koper. Lelaki itu melangkah menuju pintu depan. Mencoba dengan langkah cepat seperti memburu sesuatu. Sementara Mona telah hilang ditelan lalu lalang orang.&lt;br /&gt;Ada beberapa barang lagi yang mesti ditunggu dari bagasi. Kakinya terasa lemas. Direbahkan pantatnya diatas papan troly. Bayangan wajah Mona melingkar-lingkar di kepala. Semakin terasa menyesakkan dada. Iseng-iseng  dibukanya majalah yang sedari tadi ditenteng ditangan kiri seperti tengah mengharapkan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha..ha..ha…, kau pasti mengharap dalam majalah itu terselip kartu namanya atau mungkin semacam tulisan tangan deretan angka nomer telepon” ledek Bayu temannya&lt;br /&gt;Ray terkesiap oleh komentar temannya yang tiba-tiba, setelah ia mencoba membagi perasaannya dengan kedua temannya.&lt;br /&gt;“kau takkan pernah mengerti” sambung Ray pelan.&lt;br /&gt;Aku menangkap setangkup getir yang tengah dicoba ditahannya.&lt;br /&gt;Malam itu di sebuah ruang tunggu Rumah Produksi, Ray menceritakan semua perjalanannya tempo hari kepada kami. Kita bertiga berkumpul saat jeda menunggu proses offline sebuah film komersial. Aku dan Bayu telah lama mengenal Ray. Dan malam itu untuk pertama kalinya kami merasa ada yang berubah di diri Ray. Ia bukan Ray yang dulu.&lt;br /&gt;“Aku tahu kau sedang berusaha serius menjalin hubungan dengan seseorang yang menarik perhatianmu, tapi apakah caramu itu cukup adil?” tanyaku mencoba mencari tahu dan mengusir rasa penasaran.&lt;br /&gt;“Malam setelah pertemuanku dengannya aku tak bisa tidur, timbul pertanyaan-pertanyaan tentang sikapku yang tak lazim. Tapi aku akhirnya tak menyesali itu semua” jawab Ray.&lt;br /&gt;Sekali lagi kuperhatikan wajahnya. Sepertinya tak ada gurat-gurat  penyesalan.&lt;br /&gt;“Dia masih di Jakarta kan?”&lt;br /&gt;“Ya, katanya dia akan menghabiskan sisa waktu di Jakarta bersama teman-temannya,&lt;br /&gt;kadang aku berharap di suatu tempat aku akan bertemu dengannya”&lt;br /&gt;‘Bagaimana bisa ketemu, kita tak punya sesuatupun untuk jadi petunjuk. Apa kita mesti kelilingi seluruh café di Jakarta!, busyet deh” Bayu kembali melempar ledekannya.&lt;br /&gt;Kami tertawa bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di pintu lift saat aku bersama Ray berjalan pulang menuju tempat parkir, dia sempat berucap. “Sampai detik ini aku masih meyakini apa yang ada di hatiku, dan keyakinan yang teguh ini akan membawa langkahku padanya”&lt;br /&gt;Aku hanya mengangguk. Dilangit bulan benderang dan angin semilir berhembus. Seperti tengah mencatatkan pesan Ray pada seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;Cerpen ini dimuat di majalah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;"kumpulan cerita CintaKasih"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;saya posting setelah mengalami sedikit perbaikan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-115009332369066624?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/115009332369066624/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=115009332369066624&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/115009332369066624'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/115009332369066624'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2006/06/sebuah-cerpen.html' title='sebuah cerpen'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-114956684107301950</id><published>2006-06-05T20:54:00.000-07:00</published><updated>2006-06-05T21:23:22.750-07:00</updated><title type='text'>mereka akhirnya bisa berobat gratis!</title><content type='html'>Dusun Saman terletak di Jl. Parangtritis km3, persis dipinggir ringroad selatan. Dusun Saman dihuni lebih kurang 190 KK. Pagi yang cerah, warga masih gotong royong membenahi rumah mereka yang rubuh. Saat terdengar suara pengeras dari masjid kampung yang meminta seluruh warga berkumpul di posko karena telah datang team relawan kesehatan dari Bulan Sabit Merah Indonesia. Tak lama nampak berbondong-bondong ibu-ibu yang sebagain mengendong anak, bapak-bapak, para pemuda serta para wanita dan anak-anak kecil menuju posko di maksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu Sabtu 3 Juni 2006, satu minggu setelah kejadian gempa dahsyat di DIY. Dan masyarakat Desa Saman baru kali itu didatangi team kesehatan keliling. Sebenarnya di desa itu terdapat klinik pengobatan, tapi entah kenapa pada saat masyarakat membutuhkan uluran tangan untuk pengobatan klinik itu tampak acuh-acuh saja. Inisiatif menghubungi team kesehatan justru datang dari warga sendiri. Saya menyebut pemilik klinik itu adalah sosok manusia bebal dan a-sosial, ada beberapa warga yang membawa anaknya sakit panas karena beberapa hari tidur dalam tenda dan makan seadanya, masih juga dimintai tariff.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka meski matahari makin meninggi antrean para warga yang ingin berobat tetap saja panjang. Dua tenda berjajar tak mampu menampung antusias warga yang berobat dengan wajah cerah. Pengobatan gratis pada saat musibah, dimana setiap orang mengalami kesusahan tentu saja dapat meringankan beban rasa sakit dan pikiran yang kalut.&lt;br /&gt;Dua dokter muda berjilbab asyik memeriksa satu persatu pasien yang duduk dan antri dengan tertib. Setelah diperiksa dan mendapatkan resep yang tertulis di selembar kertas langsung bisa mengambil obatnya di tempat itu pula yang dilayani oleh petugas yang telah menyiapkan berkardus-kardus obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat menjadi penerjemah dadakan hehe, berhubung para dokter yang bertugas kurang memahami bahasa jawa, sementara para orang tua juga kurang dapat mengerti bahasa Indonesia. Namanya juga di dusun kecil.&lt;br /&gt;Suasana berkumpul dalam sebuah aksi sosial semacam itu, dapat sekaligus menjadi terapi ringan. Para pasien rata-rata mengalami gangguan psikis akibat gempa, maka nampak Susana dialog yang kadang lucu terjadi antara dokter dan pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter: “Ibu mesti banyak istirahat, jangan telat makan dan jangan banyak pikiran”&lt;br /&gt;Ibu: “mboten mikir pripun, lha wong rumah sederek gangsal sami rusak sedoyo”&lt;br /&gt;(ga mikir gimana kalau rumah suudara yang lima rusak semua)&lt;br /&gt;Lalau nampak ibu yang lain nimpali “tenang wae, engko rak arep dikeki duwit sak tenggok karo Pak Yusuf Kalla” (tenang aja, nanti kan akan segera dibagi uang sekeranjang oleh Pak Yusuf Kalla)&lt;br /&gt;Ibu yang lain menimpali “duwit sak tenggok opo kreweng?” (Uang sekeranjang atau pecahan genting) maka bapak-bapak serta ibu-ibu yang lain pun lantas gerrr tertawa lepas. Itulah bentuk-bentuk komunikasi ringan yang dapat sedikit mengurangi beban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau di banyak desa masih mengalami kesulitan bantuan logistik karena distribusi dari pemerintah daerah yang terkesan lamban, hal itu tak terjadi di Dusun Saman. Kami mengarahkan mereka untuk mau menjemput bola dengan membuat proposal sederhana yang ditandatangani kepala Dukuh dan RT . Lalu kami memanfaatkan info dari temen-temen yang ada di Perusahaan Swasta atau BUMN yang membuat Posko induk disana untuk segera mengirimkan proposal sederhana itu. Hingga tak membuat warga di dusun kami lantas berdiri di perempatan jalan menenteng kardus betuliskan "mohon bantuan", meski hal itu sempat terjadi di hari pertama dan kedua bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, setiap hari ada saja bantuan logistik satu atau dua mobil bak terbuka datang. Dan setiap dua hari sekali dapat membungkus 200 kantong plastik sembako untuk dibagikan kepada seluruh kepala keluarga. Kalau ada bantuan selimut atau sarung dan jumlahnya tak mencukupi untuk seluruh warga, kami sarankan mereka membaginya dengan prioritas bayi, anak kecil dan orang-orang tua. Demikianlah segala sesuatu yang menyangkut bantuan disaksikan oleh seluruh warga dan pembagiannya juga dimusyawarahkan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan hal ini akan terus terjadi, hingga tahapan rekonstruksi bangunan. Tahap dimana pemerintah pusat berjanji memberikan dananya.&lt;br /&gt;Saya pribadi lebih punya pemikiran, sebaiknya bantuan dari pemerintah berupa bahan material yang meliputi semen, besi dan kayu. Jumlah bantuan disesuaikan dengan permintaan berdasarkan data kerusakan rumah yang diberikan tiap pedukuhan. Kemudian pembangunan diserahkan kepada seluruh warga, mereka yang ahli sebagai tukang kayu dan tukang batu dapat bekerja dengan upah harian yang disediakan dananya oleh pemerintah. Pemerintah daerah semacam kelurahan sebaiknya lebih menjadi fasilitator dari pelaksanaan program ini. Mungkin juga dapat meminta para ahli bangunan untuk memberi arahan bagaimana membangun rumah yang lebih tahan terhadap goncangan gempa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-114956684107301950?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/114956684107301950/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=114956684107301950&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/114956684107301950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/114956684107301950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2006/06/mereka-akhirnya-bisa-berobat-gratis.html' title='mereka akhirnya bisa berobat gratis!'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-114949480566658101</id><published>2006-06-05T00:52:00.000-07:00</published><updated>2006-06-05T01:12:44.966-07:00</updated><title type='text'>kegiatan posko dll</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/1724/880/1600/aktifitas-relawan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1724/880/320/aktifitas-relawan.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;gb1 dan 2&lt;br /&gt;relawan posko "watu emas" membantu Indonesia power yang membuka posko di gardu PLN di Jl. parangtritis mendistribusikan bantuan. Bantuan paket berupa tenda, petromax, lampu tenda, beras, mie instant, susu, selimut, kompor, wajan, minyak tanah, softex, celana bayi, sarung dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gb3&lt;br /&gt;pengobatan gratis oleh teman BSMI (Bulan Sabit merah Ind) di kampung saya, Saman bangunharjo Sewon Bantul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gb4: bantuan terus mengalir, mis dari harian KR di Posko desa Saman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gb5: bantuan lewat dari temen2 di jakarta ke posko di kasongan Bantul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gb6: sudut tepi kawasan kerajinan gerabah kasongan yang luluh lantak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-114949480566658101?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/114949480566658101/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=114949480566658101&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/114949480566658101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/114949480566658101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2006/06/kegiatan-posko-dll.html' title='kegiatan posko dll'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-114947262506422400</id><published>2006-06-04T18:42:00.000-07:00</published><updated>2006-06-04T19:35:52.180-07:00</updated><title type='text'>jogja oh jogja 2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/1724/880/1600/watu-emas.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1724/880/320/watu-emas.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/1724/880/1600/save-the-children.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1724/880/320/save-the-children.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/1724/880/1600/bermain-stc.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1724/880/320/bermain-stc.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gambar 1&lt;br /&gt;Posko "Watu Emas"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gambar 2&lt;br /&gt;WeEs Ibnoe Say koordinator posko "Watu Emas" bersama team dari LSM internasional "Save the Children" sedang mendiskusikan teknis pelaksanaan program pendidikan untuk anak-anak paska gempa di 30 titik meliputi 2 kecamatan, yaitu kel. Panjang rejo Pundong Bantul, dan Kec. Sewon Bantul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gambar 3&lt;br /&gt;Relawan dari posko "Watu Emas" tengah mengajak bermain anak-anak dan beraktifitas, di kel. Panjangrejo, Pundong, Bantul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gambar 4&lt;br /&gt;Saya sempat mejeng bersama Mas Willy yang rencananya ada acara di jogja, terpaksa dibatalkan dan ikut menjadi kontributor penggalangan bantuan lewat posko yang didirikan oleh mantan anak bengkel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;demikian sedikit gambaran aktifitas saya menjenguk keluarga sekaligus menjadi relawan dadakan. Jogja ternyata membutuhkan orang-orang yang dapat berfikir sistematis, tahu wilayah dan mau terjun ke lapangan, sehingga bantuan cepat terdistribusi dan tidak menumpuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/1724/880/1600/bersama-mas-willy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1724/880/320/bersama-mas-willy.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-114947262506422400?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/114947262506422400/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=114947262506422400&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/114947262506422400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/114947262506422400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2006/06/jogja-oh-jogja-2.html' title='jogja oh jogja 2'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-114906549271969689</id><published>2006-05-31T01:41:00.000-07:00</published><updated>2006-05-31T02:17:44.240-07:00</updated><title type='text'>Jogja oh jogja...</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mulanya yang muncul adalah perasaan gamang serta bingung. Ketika dihadapkan pada berita musibah bencana alam yang meluluhlantakkan Jogja, kota kelahiranku.&lt;br /&gt;Belum pernah sebelumnya merasakan keperihan bahwa yang menjadi korban adalah keluarga, saudara dekat dan juga saudara jauh. Meski untuk keluarga sekandung alhamdulillah semuanya selamat, paling luka-luka ringan ketimpa genting dan reruntuhan bangunan yang untungnya tak sampai merenggut nyawa. Meskipun ada juga korban meninggal, yaitu adik serta anak dari suami kakakku yang tinggal di daerah Jetis-Bantul, daerah yang paling parah menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Sabtu pagi itu, aku sekeluarga baru saja memarkir mobil di garasi dan kaki menginjak teras rumah sehabis liburan ke luar kota, saat telpon berdering, dan adikku yang di Jakarta mengabarkan ada gempa besar di Jogja. Saat itu aku spontan menghubungi semua anggota keluarga, tak bisa. Komunikasi terputus karena listrik padam. Maka siangnya ku amini saja saat adikku bertolak ke jogja, pesanku segera kirim kabar. Malamnya alhamdulillah, kabar yang kuterima semua keluarga kandung selamat kecuali ada beberapa yang rumahnya rusak parah dan sebagian retak-retak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari demi hari paska bencana, kami tetap saling kontak dan berikhtiar bagaimana memberi bantuan, karena ternyata banyak sekali tetangga dari adik serta kakakku yang lebih menderita. Untung saja kakakku punya cukup teman di Jakarta, maka dia langsung membuka posko “Watu Emas” di kawasan ringroad selatan, jl imogiri, dan bantuan terus mengalir.&lt;br /&gt;Juga adikku disamping membantu memberi arahan bantuan ke posko, juga aktif menjadi pemandu bagi para mobil-mobil donatur yang kebingungan mencari alamat. Keluargaku yang sebenarnya juga menjadi korban, masih diberi kelapangan Tuhan, berupa kesehatan untuk membantu melancarkan bantuan dari para dermawan, agar sampai ke tangan yang berhak menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini, rabu 31 Mei 2006 aku juga segera meluncur ke jogja. Setelah cukup mendapatkan informasi tentang Jogja. Walaupun tak membawa truk berisi bantuan makanan paling tidak aku pingin ikut merasakan apa yang lagi diderita dengan ikut berada di tenda-tenda mereka. Atau ikut mengulurkan tenaga membawa bantuan ke para korban dari “Posko Watu Emas”&lt;br /&gt;Semoga Tuhan memberikan tempat yang mulia bagi semua korban meninggal dari musibah ini. Dan memberi ketabahan dan kesabaran yang luar biasa bagi setiap keluarga yang ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti janji Tuhan dalam surat Alam Nasyroh&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;“sungguh setelah kesulitan, ada kemudahan”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;“dan sungguh setelah kesulitan ada kemudahan”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 51, 204);"&gt;posko “Watu Emas”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 51, 204);"&gt;kontak  0274 7411114  atau 08157990989 atau 0813 808 39574&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-114906549271969689?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/114906549271969689/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=114906549271969689&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/114906549271969689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/114906549271969689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2006/05/jogja-oh-jogja.html' title='Jogja oh jogja...'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-114655078484727578</id><published>2006-05-01T23:10:00.000-07:00</published><updated>2006-05-02T21:26:40.700-07:00</updated><title type='text'>selamat jalan Pram</title><content type='html'>&lt;a href="http://imageshack.us/?x=my6&amp;myref=http://imageshack.us/" onclick="return fitsInWindow();"&gt;&lt;img style="width: 365px; height: 298px;" id="thepic" onclick="scaleImg()" src="http://img69.imageshack.us/img69/2594/pramok6in.jpg" title="Click to visit ImageShack for Image Hosting!" alt="img69/2594/pramok6in.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-114655078484727578?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/114655078484727578/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=114655078484727578&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/114655078484727578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/114655078484727578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2006/05/selamat-jalan-pram.html' title='selamat jalan Pram'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-113922392041811915</id><published>2006-02-06T02:53:00.000-08:00</published><updated>2009-11-08T03:53:55.281-08:00</updated><title type='text'>dialog imajiner</title><content type='html'>dialog imajiner dengan ketua DPRK (dewan perwakilan rakyat kecoa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di sebuah sore yang lembab sehabis hujan, udara berhembus tipis kami berhadapan untuk sebuah dialog, ia nampak menyembunyikan wajahnya yang memeram sekarung rasa cemas, tubuhnya masih tetap pipih dengan warna kulit kecoklatan dan cenderung tampak hitam, apalagi cuaca masih mendung hingga hanya sedikit cahaya dan tak sanggup menerangi seluruh anggota tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"kami telah mendengar genderang perang ditabuh untuk kesekian kalinya!" katanya datar nyaris tanpa ekspresi hanya sungutnya yang sesekali bergerak ke atas dan ke bawah. Aku tahu ia dengan segala cara mencoba tetap tenang dalam gemuruh cemas yang bagai air bah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ya, kami telah mencoba segala cara, agar semuanya bisa berjalan dengan tenang, seperti perjanjian damai yang pernah kita sepakati. Kalian tahu kan, bahwa pada pasal 3 ayat 2 perdamaian manusia dan kecoa yang ditandatangani di atas materai" sahutku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"tentang pembagian waktu operasional kerja bukan?" balasnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"nah!, coba simak baik-baik!, bukankah waktu operasi kalian adalah pada jam tujuh malam hingga jam lima pagi?, tapi apa yang terjadi sekarang, kalian dengan seenaknya saja melakukan kegiatan mencari makan tanpa mentaati aturan. Di saat kami perlu konsentrasi berfikir, kalian berkeliaran di antara meja kerja, bahkan menyelinap di antara tuts-tuts keyboard!. Tidak hanya itu kalian menerobos masuk di toples dan kotak kue yang baru saja ditaruh, dan itu kalian lakukan di siang hari, di saat kami bekerja. Apakah itu yang dinamakan menghormati arti perdamaian?" sanggahku dengan menahan geram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ya...ya...kami mengerti itu, tapi tolonglah kalian pahami juga. Kami masyarakat kecoa sedang mengalami booming  pertumbuhan penduduk. Seperti juga problem manusia. Misalnya persoalan pornografi dan pornoaksi itu juga tengah melanda kami. Dan sayangnya kami bukanlah makhluk semacam manusia yang dengan kecerdasannya mampu menciptakan perangkat untuk mencegah terjadinya pembuahan sperma pada kaum kecoa betina. Jadi ketika terjadi pergaulan bebas dari kaum muda kami, ya jelas saja telah terjadi peningkatan kelahiran 100 berbanding 1. Jadi 1 kecoa mati 100 lahir." jawabnya mencoba mengelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"wah pantas, kami melihat ratusan bayi-bayi kecoa berkeliaran di seluruh ruang kerja" batinku. Setelah beberapa saat akhirnya mulutku mampu mengutarakan sebuah keputusan manusia "Ya untuk itu kawan akhirnya kami minta maaf,  rasanya sulit  mengurungkan niat kami untuk tetap akan membasmi kalian besok pagi" jawabku dengan menunjukkan rasa sesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pandangi wajahnya yang nampak menunduk, sungutnya terlihat lunglai, ia benar-benar pasrah untuk menerima jawabanku. ia sudah menduga bahwa takkan ada lagi kesanggupan untuk sekali lagi membuat kesepakatan nota perdamaian. Ditangannya masih tergenggam lembaran teks perdamaian, tangannya serasa lemas, seluruh enerji tubuhnya seperti terserap udara sore yang makin merangkak menuju rembang petang. Aku menggenggam tangannya dan menepuk pelan bahunya, sebelum pergi meninggalkannya, tanpa sanggup lagi mengucapkan sepatah kata, kata-kata seakan tersekap di mulut tenggorokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"maafkan kami kecoa" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-113922392041811915?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/113922392041811915/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=113922392041811915&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/113922392041811915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/113922392041811915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2006/02/dialog-imajiner.html' title='dialog imajiner'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-113833211275837013</id><published>2006-01-26T19:20:00.000-08:00</published><updated>2006-01-26T19:21:52.760-08:00</updated><title type='text'>Warte nur, balde ruhest du auch</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;bersabarlah, tak lama lagi kaupun akan terlelap...&lt;br /&gt;&lt;div class="post-body"&gt;&lt;br /&gt;uber allen Gipfeln&lt;br /&gt;istRuh&lt;br /&gt;in allen Wipfeln&lt;br /&gt;spurest du&lt;br /&gt;kaum einen Hauch;&lt;br /&gt;die vogelein schuveigen im Walde&lt;br /&gt;warte nur, balde&lt;br /&gt;ruhest du auch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;di atas semua puncak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;adalah keheningan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;di pucuk semua pohon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kau rasakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;satu hembusan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;burung-burung kecil membisu di hutan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;bersabarlah, tak lama lagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kau pun akan terlelap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Goethe)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;demikian Goethe dalam sebuah puisinya&lt;br /&gt;yang hampir dihafal oleh semua anak-anak di jerman&lt;br /&gt;(dipetik dari buku karya Milan Kundera "kekekalan", yang diantaranya menceritakan banyak kisah proses perjalanan hidup seorang Goethe)          &lt;/div&gt;          &lt;br /&gt;&lt;a class="comment-link" href="comment.g?blogID=11046120&amp;postID=113643950361516175&amp;amp;isPopup=true" onclick="window.open('http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=113643950361516175&amp;isPopup=true', 'bloggerPopup', 'toolbar=0,scrollbars=1,location=0,statusbar=1,menubar=0,resizable=1,width=400,height=450');return false;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-113833211275837013?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/113833211275837013/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=113833211275837013&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/113833211275837013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/113833211275837013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2006/01/warte-nur-balde-ruhest-du-auch_26.html' title='Warte nur, balde ruhest du auch'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-113815857617900021</id><published>2006-01-24T19:05:00.000-08:00</published><updated>2006-01-24T20:35:08.046-08:00</updated><title type='text'>Ketika Goyang Mesti Dipertanggungjawabkan</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Heboh pro dan kontra bakal diberlakukannya UU anti pornografi dan pornoaksi, ditambah heboh soal bakal terbitnya majalah payboy, aku ingat pernah nulis ini sekitar 3 tahun lalu...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;img src="http://gallery.rileks.com/photo/s_1073.jpg" alt="" align="left" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tiba-tiba saja dia mencuat, melesat bagai meteor ke angkasa imaji para lelaki. Menelan persoalan terorisme, bom, dan perseturuan Amerika dengan Irak. Di mana-mana orang memperbincangkannya, dari yang memang sudah akrab karena mengoleksi VCD bajakannya hingga yang hanya denger-denger dari selentingan tetangga atau rekan kerja. Saking hebohnya, dengan nada tak bersalah malah ada yang bertanya, "Apa itu Inul? Jadi ada karyawan baru ya?" Lalu ada yang menimpali, "Wah, bukan! Inul itu penyanyi bergoyang ala ngebor!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ngebor? Wah, tentu ini istilah yang gres untuk sebuah profesi seorang penyanyi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Inul dan juga Inul-Inul yang lain sebenarnya hanyalah fenomena realitas masyarakat cilik, yang sumpek dan penat menghadapi hidup, yang tinggal punya harapan-harapan kosong, seperti ketika mereka membelinya lewat toto gelap (togel) atau undian berhadiah lain. Masyarakat yang kenyang disumpal janji-janji, yang tertindas dan menjadi korban kanibalisme dari segala kebijakan kekuasaan. Mereka kemudian seperti mendapatkan jawaban instan, ada ruang untuk menyadarkan segala beban persoalan pada pinggul yang bergoyang ala ngebor.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pernah suatu ketika saya menawarkan ajakan pada rekan untuk mendatangi sebuah acara diskusi sastra. Tapi apa jawabnya? "Wah, aku ga ngerti sastra mas, mending nonton Inul!" Padahal, nara sumber dalam diskusi sastranya wanita dan barangkali tak kalah cakep dan seksi. Demikianlah Inul. Ia telah menjadi magnet bagi banyak orang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Lalu, dari hanya melenggok di tengah tatapan mata orang-orang pinggiran di sebuah dusun atau kampung di pinggiran kota kecil, pantat Inul dengan gaya ngebor telah menembus belantara kota besar, tembus hingga gedung-gedung bertingkat. Goyang Putri Malam pun lewat. Gaya ngebor Inul mampu menyedot puluhan juta mata di pelosok Tanah Air.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dan ketika ada orang menggugat goyang Inul, lalu semuanya seakan dibuat sibuk. Pak polisi, para pakar psikolog, antropolog. Para manusia suci sibuk mempersiapkan fatwa, sementara para penjarah uang rakyat bebas berkeliaran. Apakah Inul harus menghadap polisi untuk mempertanggungjawabkan goyangannya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Inul memang hanya sebaris kalimat dari perjalanan sejarah manusia dan kemanusiaan. Pertanyaannya, apakah kita telah benar-benar belajar menjadi seorang manusia?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" &gt;orang yang tidak pernah belajar dari masa 3000 tahun,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" &gt;hidup tanpa memanfaatkan akalnya (Goethe)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" &gt;Jakarta, 20 Februari 2003 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-113815857617900021?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/113815857617900021/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=113815857617900021&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/113815857617900021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/113815857617900021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2006/01/ketika-goyang-mesti.html' title='Ketika Goyang Mesti Dipertanggungjawabkan'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-113396918320938508</id><published>2005-12-07T06:25:00.000-08:00</published><updated>2006-05-03T01:38:19.010-07:00</updated><title type='text'>"klangenan jelang tutup tahun"</title><content type='html'>&lt;a href="http://imageshack.us/?x=my6&amp;myref=http://imageshack.us/" onclick="return fitsInWindow();"&gt;&lt;img id="thepic" onclick="scaleImg()" src="http://img207.imageshack.us/img207/1047/sunyi4ii.jpg" title="Click to visit ImageShack for Image Hosting!" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya tak ada yang istimewa dari teras dan ruang tengah kamar rumah yang hampir sepuluh tahun kami singgahi. Kecuali ada tiga lampu baru hasil lirak-lirik di desa kasongan saat mudik kemarin. Satu kupasang di dinding teras depan, satu lagi di garasi mobil depan kamar dan satu di ruang tamu. Tak ada niatan yang terlalu khusus kenapa mengganti bolam-bolam lampu neon dengan bolam lampu biasa (maksudnya lampu yang memancarkan cahaya kemerahan) selain karena kami pikir agar cahayanya tak terasa flat saja. Sampai suatu malam ketika pulang kantor sesampai di pintu pagar ada sesuatu yang menggugah untuk sebuah dialog terhadap diri sendiri. Dan saat kumasuki ruang tamu, hmmm cahaya temaram yang memancar dari lubang-lubang kap yang menyerupai stupa itu telah menghadirkan suasana hening dan khidmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai mandi aku langsung mengambil air wudhu, menggelar sajadah yang tidak biasanya. Selembar tikar dari bahan eceng gondok yang telah dikeringkan dengan dijemur dan dirajut. (ini juga hasil lirak-lirik di kasongan) Mungkin tak banyak yang tahu eceng gondok itu mirip daun genjer (limnocharis flava) sejenis tumbuhan yang hidup di rawa-rawa. Kini eceng gondok atau sejenis daun genjer bukanlah tanaman untuk dikonsumsi sebagai penyambung hidup seperti di jaman gegeran dulu (jadi teringat lagu genjer-genjer yang dinyanyikan lilis suryani dalam film Gie). Eceng gondok era kini telah menjadi bahan untuk sebuah kerja pebuh daya kreatifitas. Eceng gondok yang tumbuh liar di sungai-sungai telah menjelma menjadi beragam barang keperluan rumah tangga. Mulai dari jacket, tikar sampe meja kursi...its amazing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bias-bias cahaya memancar dari lubang-lubang kap yang menyerupai stupa itu telah menghadirkan suasana hening dan khidmat, teringat pernah menulis sajak ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;selamat datang sunyi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ku tunggu kau di ruang sudut hati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;malam ini kita akan bercakap kembali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tentang cinta yang berkabut, rindu yang berlumut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;selamat datang sunyi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;jangan kau tinggalkan sepasang matamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;yang menyimpan telaga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kerana kita akan mengharunginya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;menembus lintasan rahasia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;selamat datang sunyi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mari kita segera pergi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tinggalkan sejenak tangis tanah ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;berkelana mencari jejak-jejak cahaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dan lihatlah kini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;jutaan bayang-bayang mengikuti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;biarkan saja!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;toh kita tak sedang memburunya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;selamat datang sunyi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;di sini percakapan kita mulai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;selalu ada ruang untuk pertemuan terhadap diri sendiri,&lt;br /&gt;pertemuan dan dialog empat komponen aku,&lt;br /&gt;aku yang jiwa, aku yang logika, aku yang hati dan aku yang nafsu&lt;br /&gt;agar masing-masing berproses bersama saling memberi dan berbagi, tidak saling menguasai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;beberapa waktu lalu ada sebuah email. Isinya meminta ijin untuk memuat sajak diatas kedalam sebuah buku pelajaran bahasa. Mereka mememukan sajak ini dalam sebuah situs. Penulis buku itu dari negeri jiran Malaysia. Mungkin saja buku itu nantinya diharapkan dapat menjadi bahan bacaan alternatif para siswa disana, meski hanya berlaku lokal di wilayah kecil saja.&lt;br /&gt;Aku senang dan menyambut hal ini dengan tangan terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti juga tatkala aku meminta  Joko Pinurbo memberi semacam catatan atas kumpulan sajak-sajakku yang rencananya akan terbit menjadi sebuah buku (meski aku telah menerima testimonial dari beliau tapi kok hingga lebih dari satu tahun buku kumpulan sajak itu belum kunjung terbit juga, maaf ya Mas Joko Pinurbo).&lt;br /&gt;Ada hal-hal diluar teknis yang masih kupertimbangkan, ya...i hope not to long lah.. he..he..&lt;br /&gt;Hikmah dari itu adalah memakai judul buku (yang belum kunjung terbit itu)  "kutulis Gerimis" menjadi headblog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi toh selalu ada hal-hal yang membahagiakan, Mas Joko Pinurbo dalam sebuah percakapan telepon sempat mengutarakan bahwa beberapa sajak dalam kumpulan yang rencananya akan menjadi buku itu telah beliau jadikan bahan diskusi sastra terhadap para mahasiswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat sajak-sajak aku jadi lebih mengenal dan masuk dalam komunitas sastra, bergaul dengan teman-teman yang telah lebih dulu berkiprah disana. Ada Kurnia Effendi, Eka Kurniawan, AS Laksana, Binhad Nurrohmat, Linda Christanty, Ucu Agustin, Nur Zen Hae, Iyut Fitra, Jamal D Rahman, Joko Pinurbo, Ahmadun Y Herfanda, hingga yang lebih senior yang kuanggap sebagai teman sekaligus guru seperti Sitor Situmorang, Romo Mudji Sutrisno, Mas Danarto, Mas Zawawi Imron hingga Gus Mus. Tak kecuali teman-teman dari Cybersastra seperti Sihar, Agung, Firman, Cecil, Indah, Medy, Nony dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terima kasih Tuhan, untuk semua karunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://imageshack.us/?x=my6&amp;myref=http://imageshack.us/" onclick="return fitsInWindow();"&gt;&lt;img style="width: 283px; height: 137px;" id="thepic" onclick="scaleImg()" src="http://img361.imageshack.us/img361/7759/myfamily6fg.jpg" title="Click to visit ImageShack for Image Hosting!" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terimakasih&lt;br /&gt;untuk Nazli istriku&lt;br /&gt;dan Ali anak semata wayangku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terimakasih teman-teman yang telah menjadi bagian dalam proses yang akan terus berjalan ini...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-113396918320938508?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/113396918320938508/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=113396918320938508&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/113396918320938508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/113396918320938508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2005/12/klangenan-jelang-tutup-tahun.html' title='&quot;klangenan jelang tutup tahun&quot;'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-113280895740577419</id><published>2005-11-23T20:45:00.000-08:00</published><updated>2005-11-23T22:00:09.303-08:00</updated><title type='text'>pecel lele dan angkringan...</title><content type='html'>&lt;a href="http://imageshack.us/?x=my6&amp;myref=http://imageshack.us/" onclick="return fitsInWindow();"&gt;&lt;img style="width: 250px; height: 148px;" id="thepic" onclick="scaleImg()" src="http://img487.imageshack.us/img487/70/pecellele4li.jpg" title="Click to visit ImageShack for Image Hosting!" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang tersisa dari cerita mudik tahun ini, apalagi kalau bukan soal menghabiskan waktu malam bersama teman dengan kongkow-kongkow alias nongkrong. Pilihan tentu saja warung yang menyediakan tempat eksotis khas jogja, enak, murah dan lebih penting lagi bisa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;byar-byaran&lt;/span&gt;, maka meluncurlah kami ke warung angkringan karena biasanya angkringan buka hingga dini hari, dan ngobrolpun dapat lebih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mat-matan&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun lalu saat aku pulang dan nongkrong di warung angkringannya (sebut saja Lek Parji) salah satu langganan, masih berupa tempat kecil yang menyewa pelataran rumah, gerobak yang di desain sebagian sebagai tempat anglo dengan dua buah ceret. Dua ceret ini untuk memasak air, yang satu tawar yang satu air jahe (air yang dibumbui jahe)&lt;br /&gt;Kopi jahe atau susu jahe adalah minuman pilihan, terkadang juga menjajal teh jahe. Ngobrol ngalor ngidul sembari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nyruput&lt;/span&gt; kopi jahe ditambah nggado gorengan kepala ayam atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ceker&lt;/span&gt; terasa kental dan kas melaksanakan ritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin waktu kusempatkan lagi mampir ke tempat angkringan Lek Parji, suasananya telah berubah makin menggairahkan. Rupanya dari keuntungan warung angkringannya Lek Parji telah mampu membeli sebidang tanah cukup luas di pinggir hingga lembah sebuah kali. Maka hijrahlah warungnya disana dengan membuat bangunan permanen tingkat, di bagian bawah digunakan untuk memasak sekaligus tempat tinggal dan diatasnya warung. Karena struktur tanah yang miring maka lantai atas yang dipakai sebagai warung berada persis rata dengan permukaan jalan, artinya tidak perlu repot-repot naik tangga. Langganan berdatangan tak henti, puluhan sepeda motor dan beberapa mobil plat B parkir di halaman yang cukup luas. Disamping lincak-lincak yang berjajar di ruang tengah, ada juga tikar-tikar yang di gelar di rerumputan sepanjang pinggir sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah sudah pindah tempat rupanya lek, makin nyaman aja” sapaku sembari salaman saat mengambil gorengan. “Lha iya tho, biar panjenengan sami betah” katanya merendah. Lek Parji yang malam itu hanya mengenakan kaos oblong putih dan sarungan menjawab ramah sambil tersenyum. Tak ada yang berubah dari sikapnya, tetap ramah seperti juga dua tahun lalu. Ia tidaklah sekedar berbasa-basi, memang demikianlah sikapnya pada setiap pelanggan warungnya. Dan memang itulah kiat yang disadari atau tidak membuat siapapun yang ingin melepas waktu malam dengan tidak sekedar makan dan kenyang menjadi ketagihan. Lek Parji sekali lagi melakukan itu dengan menganggap sebagai sebuah hal yang lumrah, yang semestinya. Hmmm aku pilih diluar saja, beralas tikar, sembari tiduran memandang langit cerah dan menyimak orkestra alam.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://imageshack.us/?x=my6&amp;myref=http://imageshack.us/" onclick="return fitsInWindow();"&gt;&lt;img style="width: 203px; height: 124px;" id="thepic" onclick="scaleImg()" src="http://img502.imageshack.us/img502/1772/ceret4to.jpg" title="Click to visit ImageShack for Image Hosting!" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu pernah aku ketemu teman di jakarta, ngobrol sana-sini hingga sampai kepada topik rencana masa depan. “Apa rencanamu kedepan?” tanya temenku. Aku bilang sekenanya “pingin jualan pecel lele”. Temenku nyahut “sesederhana itu?” . Aku tak menjawab...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok harinya dengan beberapa teman pergi ke tempat pemancingan. Di tempat pemacingan temenku rupanya ketemu seorang temannya “kenalkan ini temanku kang Barno” sahut kawanku. “Wah Barno ini temen &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ndugal&lt;/span&gt; waktu dulu, sekolah ga tamat tapi sekarang udah jadi orang hebat lho” tambah temenku lagi. Kujabat tangannya, orangnya biasa saja, dandanan sederhana, tampak wajahnya sedikit tersipu dan menjawab “Nggak ding, orang hebat apa, lha wong cuman dodolan lele kok, mending juga sampeyan itu baru ngetop temenan, tulisannya aja dimuat di koran-koran, sering jadi pembicara di seminar-seminar, pernah muncul di televisi lagi” sahutnya dengan segera.&lt;br /&gt;Aku tergelak dan masih mencoba menerka-nerka tentang Kang Barno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang mancing kami sempat mampir ke rumah Kang Barno. “Ini gubug saya” katanya merendah. “Masya Allah gubug?” bisikku. Rumah gedong yang berdiri diatas tanah hampir dua hektar, bangunan joglo dengan konstruksi kayu jati, di sekelilingnya kamar-kamar, ada kolam ikan hias, musholla, dan pekarangan yang luas dihiasi aneka tumbuhan. Kalau kutaksir sekarang membuat bangunan semacam ini mungkin bisa habis sedikitnya lima milyar rupiah. Dua mobil merek terbaru parkir di garasinya, dan tadi ia pergi hanya menggunakan sepeda motor tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang dari rumah Kang Barno kami diantar hingga di pintu gerbang, dioleh-olehi lele hidup hampir seberat sepuluh kilo. “Jangan lupa kapan ke jogja mampir lagi lho” katanya ramah. Aku mengangguk.&lt;br /&gt;Di mobil dalam perjalanan pulang temenku cerita, Kang Barno itu usahanya jualan ikan lele. Kerjanya setiap sore hanya mengantar lele ke tiga puluh warung tenda asuhannya diantara seratusan warung pecel lele yang tersebar di seantero kota. Ia mengirim masing-masing sepuluh hingga dua puluh kilo tiap warung tenda. Keuntungan bersih tiap warung semalam rata-rata seratus hingga seratus lima puluh ribu kalau kali tiga puluh, wah lebih dari tiga juta sehari penghasilannya belum termasuk usaha cateringnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang masih kuingat diatas pintu menuju ruang belakang rumah Kang Barno, aku membaca sebaris tulisan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“ojo dumeh, ojo gumunan, ojo kagetan”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-113280895740577419?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/113280895740577419/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=113280895740577419&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/113280895740577419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/113280895740577419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2005/11/pecel-lele-dan-angkringan.html' title='pecel lele dan angkringan...'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-113254468364000212</id><published>2005-11-20T18:19:00.000-08:00</published><updated>2005-11-22T01:33:49.770-08:00</updated><title type='text'>"sangune mati iku..."</title><content type='html'>&lt;a href="http://imageshack.us/?x=my6&amp;myref=http://imageshack.us/" onclick="return fitsInWindow();"&gt;&lt;img style="width: 292px; height: 203px;" id="thepic" onclick="scaleImg()" src="http://img396.imageshack.us/img396/1589/keranda0ew.jpg" title="Click to visit ImageShack for Image Hosting!" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font&gt;“sangune mati iku amalmu dudu tumpukan bondo donyamu...”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(dan seterusnya, ada lanjutannya beberapa kalimat lagi, tapi maaf yaa lupa...masih penasaran untuk mencari tahu kelengkapan lirik ini)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat Bu, sering kau tembangkan syair itu kala sore menjelang maghrib. Waktu kau menyiapkan lampu-lampu minyak dari teras dapur menuju ruang tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beberapa lampu lagi kau taruh di depan pintu, tepatnya pada dinding di samping pintu ruang tamu dan di tiang langgar. Usiaku waktu itu antara sebelas dua belas tahun. Menjalani hidup dengan kesederhanaan bahkan terkadang kekurangan. Tapi toh tak menjadikanmu melepaskan kecintaan kepada Tuhan. Tembang-tembang itu begitu melekat bahkan hingga saat ini. Saat sudah puluhan tahun berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tembang itu telah ada, jauh sebelum Mas Taufik Ismail membuat sajak indah "sajadah panjang" yang disenandungkan Bimbo dengan tak kalah indahnya. Bahkan menjadi andalan Pak SBY &amp; Jusuf Kalla dalam iklan kampanyenya. Kemudian belakangan Opick melantunkan syair demikian indah yang kurang lebih bermakna sama "bila waktu memanggilmu, teman sejati tinggallah amal, bila waktu ......"&lt;br /&gt;Apa yang dapat kumaknai dari lirik itu, kelihatan nampak demikian sederhana. Waktu usiaku menginjak tujuh belas tahun, segar kudengar kau masih menyenandungkan tembang itu. Sempat aku berfikir apakah kau tengah mencoba menghibur diri dari keadaan dan beban yang menghimpit...&lt;br /&gt;menghibur dirimu dan juga aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;“sangune mati iku amalmu, dudu tumpukan bondo donyamu...”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tapi kini aku menangkap pesan yang makin jelas dari lirik sederhana itu. Betapapun nampak sederhana lirik itu tidaklah sesederhana untuk punya kesanggupan memahami dan mengapresiasikannya. Sebuah lirik yang sederhana, diciptakan oleh orang-orang yang sederhana, namun mempunyai kedalaman makna mampu memberi arah perspektif yang seimbang dan jernih ke depan. Sebuah platform hidup yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;“sangune mati iku amalmu, dudu tumpukan bondo donyamu...”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aku masih termangu, bersimpuh didalam langgar yang kini telah berlantai keramik dan beralas karpet.&lt;br /&gt;Sujud rakaat pertama kucium aroma asing dari karpet yang entah telah berapa lama tak dibersihkan. Tapi siapa yang pernah berfikir untuk menyediakan mesin penghisap debu di langgar sebuah desa, kecuali sapu lidi. Ada butiran pasir di dahiku selepas shalat. Kerinduan akan wangi tikar pandan dalam langgar telah punah. bahkan sepanjang perjalanan ratusan kilometer jakarta jogja, pada setiap masjid yang kusinggahi tak kutemukan lagi hamparan tikar pandan. Tak ada lagi lampu minyak menyala, semua telah tergantikan oleh lampu neon berpendar terang benderang ke segenap ruangan. Cahaya lampu menyilaukan, membuat rata dan sama terang dalam ruang. Membungkus getar-getar cahaya hati yang rindu remang cahaya.&lt;br /&gt;Apa boleh buat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;“sangune mati iku amalmu, dudu tumpukan bondo donyamu...”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hanya sepasang makam dan rumah joglo sederhana yang tetap sama. Lumayan juga, aku masih dapat bernostalgia memutar segala memori. Kebun belakang rumah dengan pohon mlinjo, mangga dan kelapa. Orang-orang yang demikian ramah dan masih mengingat kami. Hamparan hijau sawah dengan air selokan yang jernih. Kerlap kerlip kunang-kunang dan dering serangga yang menyejukkan.&lt;br /&gt;Lamunan masih terbawa hingga pulang. Tape mobil sayup-sayup memperdengarkan Once melantunkan dealova "aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu, aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu..." di kursi belakang istri dan anakku telah terlelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;“sangune mati iku amalmu, dudu tumpukan bondo donyamu...”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;kini aku mengerti Bu, aku mengerti...&lt;br /&gt;maaf, meski aku telah pernah keliru menilaimu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-113254468364000212?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/113254468364000212/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=113254468364000212&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/113254468364000212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/113254468364000212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2005/11/sangune-mati-iku.html' title='&quot;sangune mati iku...&quot;'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11046120.post-112962056171913342</id><published>2005-10-18T00:19:00.000-07:00</published><updated>2005-11-21T20:55:19.863-08:00</updated><title type='text'>pulang</title><content type='html'>&lt;a href="http://imageshack.us/?x=my6&amp;myref=http://imageshack.us/" onclick="return fitsInWindow();"&gt;&lt;img style="width: 215px; height: 285px;" id="thepic" onclick="scaleImg()" src="http://img518.imageshack.us/img518/5386/pergi0vv.jpg" title="Click to visit ImageShack for Image Hosting!" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di lingkar jalan wajahmu meleleh&lt;br /&gt;dalam deras hujan&lt;br /&gt;mengalir ke parit-parit tubuhku&lt;br /&gt;yang berjalan ragu di teras-teras rumah bambu&lt;br /&gt;lembah itu yang kutuju&lt;br /&gt;tempat anak-anak sungai airmata berlabuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;siapa kini menjaga tanah yang telah melepuh&lt;br /&gt;udara berhembus makin asing&lt;br /&gt;langit mengurung dengan warna-warna murung&lt;br /&gt;dan kaki kita telah retak&lt;br /&gt;serupa dinding-dinding makam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kubur kita sendiri&lt;br /&gt;yang selalu lupa kita ziarahi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11046120-112962056171913342?l=zaylawanglangit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/feeds/112962056171913342/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11046120&amp;postID=112962056171913342&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/112962056171913342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11046120/posts/default/112962056171913342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zaylawanglangit.blogspot.com/2005/10/pulang.html' title='pulang'/><author><name>zay lawanglangit</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08256360674667855311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_-YqO2Uh3hbI/SaNVq2hR7CI/AAAAAAAAABs/c6mgNisqeA0/S220/1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
